teman toxic

Memiliki teman seharusnya merupakan anugerah. Teman adalah orang yang dekat dengan kita, tempat berbagi cerita dan curahan hati, dan selalu memberi dukungan untuk apa yang kamu lakukan.  

Tapi bagaimana kalau si yang katanya teman itu melakukan kesalahan yang “kok gitu banget, sih?”. Misalnya dia lupa sama ulang tahun kamu. Ditambah lagi, dia pernah ketahuan berbohong sama kamu lebih dari satu kali. Sudah begitu, kamu sering dengar laporan kalau dia suka ngomongin di belakang kamu. Hmmm… coba cek deh, jangan-jangan dia itu teman toxic. 

Apa itu teman toxic? 

Pernah dengar cerita seperti ini? Rinda dan Dwina berteman. Saat pandemi, Dwina kehilangan pekerjaan. Dia pun meminjam uang ke Rinda. Sebagai teman yang baik, Rinda ingin membantu temannya. Tapi apa daya, kondisi keuangannya saat itu juga nggak memungkinkan untuk membantu Dwina. Harusnya, Dwina bisa memaklumi kondisi Rinda. Tapi dia justru memanfaatkan kondisi ini untuk membuat Rinda merasa bersalah. 

Teman toxic adalah teman yang pada kenyataannya lebih sering bikin sakit hati daripada mendukung dan membantu kamu. Kalau kamu ngerasa Si Bestie bukan lagi anugerah, bahkan terasa seperti musibah, itulah saatnya kamu ambil ancang-ancang untuk resign dari pertemanan toxic tersebut.  

Menurut Andrea Bonior, PhD, penulis buku Friendship Fix, The Complete Guide to Choosing, Losing, and Keeping Up With Your Friends, pertemanan toxic adalah yang terjadi ketika hubungan dengan orang yang sudah kamu anggap teman, justru membahayakan kondisi emosional kamu. “Kamu bisa bilang dia teman toxic kalau sepanjang pertemanan si teman malah men-trigger stres, kesedihan, dan anxiety,” ucapnya seperti dikutip di Womenshealthmag.com.  

Nggak berhenti di situ, pertemanan toxic juga bisa menguras emosi dan membuat kamu meragukan diri sendiri. Dia mengikis kepercayaan diri kamu secara perlahan dengan cara yang nggak kamu sadari. Padahal kenyataannya justru teman toxic tersebut yang kemungkinan memiliki perasaan insecure tersembunyi dibalik sikap-sikap negatifnya.

Ciri-ciri Teman Toxic 

Teman toxic perlu dihindari, demi kesehatan mental kamu. Tapi, kadang perilaku teman toxic tidak segamblang dan semudah itu dikenali. Nah, kalau kamu mulai merasakan beberapa hal di bawah ini, boleh tinjau ulang ya hubungan kamu dengan orang yang kamu anggap teman itu.  

Membuat kamu hilang kepercayaan diri 

Hubungan pertemanan dibangun di atas pondasi saling percaya. Tapi yang kerap terjadi dalam pertemanan toxic adalah si teman selalu mengecewakan kamu dan memperlakukanmu dengan buruk. Parahnya, lama kelamaan kamu mulai menerima perilaku ini sebagai hal yang wajar dan berhenti berharap banyak.  

Ketika kamu lebih percaya dengan sikapnya yang selalu merendahkanmu, maka kamu akan mulai nggak percaya dengan kelebihan dan kemampuan kamu. Kepercayaan diri kamu pun perlahan menguap.  

Teman toxic selalu menempatkan dirinya sebagai pusat semesta 

Teman yang baik akan memberikan dukungan yang kamu perlukan. Nggak selalu harus menghadirkan solusi jitu kok, seenggaknya dia selalu ada di sebelah kamu dan mendengarkan keluh kesahmu. Dia memvalidasi rasa sedih, marah, atau sakit yang kamu alami.  

Dalam pertemanan toxic, dukungan dan rasa empati itu nggak ada. Setiap membagikan masalah kamu, si teman akan tidak mengacuhkannya dan berperilaku seolah itu hanya masalah kecil, lalu dengan lihai merubah topik dan menjadikan mereka sendiri sebagai pusat topik penting yang mendominasi pembicaraan. 

Mereka menjadi pemicu stres 

Banyak penelitian memperlihatkan peran pertemanan sehat dalam meredakan stres. Dalam kasus pertemanan toxic, yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih berkata-kata positif, dia akan mencela atau mencerca kamu. Jikapun tidak dilakukan secara gamblang, kata-katanya seringkali bikin kamu kesal, tegang, dan tidak nyaman.

Ngga cuma teman toxic, tantangan finansial juga seringkali memicu stress, baca artikel Proteksi Pelengkap BPJS yang Bikin Hidup Lebih Tenang ini untuk tips mengatasinya.

Teman toxic (sebenarnya) tidak menganggapmu penting 

Memiliki teman seharusnya bisa meningkatkan perasaan terhubung, nggak sendirian. Tapi pertemanan toxic justru bikin kamu merasa tidak diacuhkan. Misalnya kamu menghubungi si teman untuk membuat rencana, tapi yang terjadi adalah pesan kamu nggak kunjung dibalas. Waktu kamu lihat IG story-nya dia lagi asyik hangout dengan teman-temannya yang lain. Yah, itu sih udah lampu merah ya. Saatnya sadar diri dan meninggalkan Si Bestie.  

Kamu jadi menyalahkan diri sendiri 

Inilah parahnya si teman toxic. Nggak cukup menggerus kepercayaan diri, dia sanggup bikin kamu selalu merasa salah. Segala tindakan buruk yang dilakukannya ke kamu, membuat kamu percaya kalau kamu memang pantas menerimanya.  Lebih parah lagi, dia memanipulasi kamu untuk membayar rasa bersalah tersebut dengan sesuatu yang menguntungkannya.

Teman toxic bikin hubungan sosial kamu ambyar 

Seratus persen perhatian dan waktu kamu harus tercurah untuknya seorang. Walhasil, kamu nggak punya sisa waktu untuk berteman dengan yang lain. Walaupun dia bukan tipe yang harus diperhatikan terus-menerus, manipulasi yang dia buat secara terus-menerus, bikin kamu ngerasa kalau kamu bukan teman yang baik untuk siapa pun. Akhirnya kamu jadi nggak berani berteman atau menarik diri dari kehidupan sosial. 

Menghadapi si teman toxic  

Kalau kamu mengalami apa yang disebutkan di atas, saatnya melakukan “reality check”. Minta pendapat orang lain yang masih kamu percaya, mengenai tindakan si teman toxic. Pendapat orang luar biasanya lebih objektif dan bisa mengkonfirmasi hal-hal yang kamu anggap mencurigakan.  

Kalau sudah ada konfirmasi dari pihak luar, saatnya ambil keputusan. Nggak selamanya teman toxic harus kamu singkirkan dari hidup kamu. Periksa kadarnya, kira-kira sudah sebegitu parahkah? Atau masih bisa dibicarakan baik-baik dan Si Bestie kelihatannya ada harapan dapat berubah.  

Jika opsi kedua yang kamu pilih, pastikan untuk membuat beberapa kesepakatan demi terciptanya hubungan yang seimbang di kemudian hari. Selanjutnya, coba membuat beberapa batasan. Sebutkan padanya apa saja tindakan yang membuat kamu nggak nyaman. Katakan kepadanya bahwa kamu nggak mau menerima tindakan seperti itu lagi dan bagaimana hal itu men-trigger emosi tertentu. Misalnya, “Aku nggak suka kalau kamu merendahkan di depan teman-teman yang lain. Jadi kalau kamu bikin jokes yang merendahkan aku lagi, lebih baik kita nggak usah hang-out bareng.” 

Kalau kamu memutuskan untuk menyelesaikan pertemanan tersebut, komunikasikan kepadanya dengan jelas dan tegas. Jangan sampai ada keambiguan mengenai status pertemanan kalian.  

Sebelum bertemu dan menjelaskan maksud kamu, ada baiknya kamu mencatat poin-poin yang ingin kamu sampaikan. Tetap fokus pada tujuan awal dan apa yang ingin kamu capai dari percakapan tersebut.  

Kesehatan mental kamu adalah hal yang penting. Jangan sampai kamu mengorbankan hal ini demi hubungan pertemanan yang nggak sehat. Yuk, analisa hubungan kamu dengan Si Bestie sebelum terlambat, Kalau kamu merasa ada yang salah dengan hubungan pertemanan tersebut, segera atasi dengan bijak ya. Selamat mencoba!

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang

Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!