Walau Banyak Fleksibilitas, Freelancers Tidak Lepas dari Stress – Berikut Tips Jaga Kesehatan Mentalmu

Gaya Hidup & Kesehatan |

kesehatan mental freelancers

Mengutip Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kondisi kesehatan mental yang baik adakah ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang sehingga kita dapat menikmati hidup serta menghargai orang lain di sekitar. Bagaimana keadaan kesehatan mental pekerja lepas Indonesia? Simak terus di sini.

Dengan kesehatan mental yang sehat, kita dapat menggunakan kemampuan atau potensi diri secara optimal untuk menjalani kehidupan, dapat mencari solusi untuk masalah-masalah hidup, serta dapat menjalin hubungan yang positif dengan orang lain. Kesehatan mental yang prima menjamin kita dapat bekerja dan berkarya dengan rasa puas dan bahagia di dalam hati. Di sisi lain, ketika kesehatan mental kita terganggu, suasana hati, kemampuan berpikir, dan kendali emosi kita jadi tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap cara kita menjalani hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Pekerjaan pun tidak dapat kita selesaikan dengan baik. 

Banyak orang beralih menjadi pekerja lepas dengan harapan dapat menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Secara teori, hal ini masuk akal. Seorang freelancer dapat bekerja dari mana saja dan kapan saja. Waktu yang dia miliki sangat fleksibel. Kamu pasti setuju, kan?  

Seorang pekerja lepas tidak perlu meminta izin petinggi di kantor untuk dibolehkan pergi ke suatu tempat di siang hari. Yang dia perlukan hanyalah menyelesaikan tugas atau pekerjaan sesuai tenggat waktu yang sudah ditetapkan.  

Namun, pada kenyataannya, pekerjaan sebagai tenaga lepas bukan berarti bisa seenaknya dan bekerja hanya ketika punya mood ingin bekerja. Menurut laporan Friday, konsultan bisnis dan jasa di London, rata-rata lama pekerja kantoran 9 to 5 melakukan tugas-tugasnya hanya 34 jam dalam seminggu, sedangkan para pekerja lepas lebih lama, yakni 36 jam seminggu. Wah, lebih panjang waktu kerja freelancer, dong?

Burnout dan Tanda-tandanya 

Oleh karena itu, pekerja lepas dan orang yang bekerja untuk dirinya sendiri (self-employed) memiliki faktor risiko untuk mengalami masalah kesehatan mental. Ada berbagai jenis masalah kesehatan mental, tetapi  stres merupakan kondisi umum yang dapat dialami pekerja lepas. Stres yang berkepanjangan dan berulang akan menyebabkan burnout. Jika sudah mengalaminya, selain kesehatan mental, kesehatan fisik seseorang pun akan terganggu.  

Nah, apakah kamu seorang pekerja lepas yang pernah mengalami burnout? Mengutip situs Mayo Clinic, daftar pertanyaan berikut dapat menjadi awal untuk mengetahui apakah seseorang mengalami burnout yang terkait dengan pekerjaannya: 

  • Apakah kamu perlu memaksa diri sendiri karena mengalami kesulitan ketika memulai bekerja? 
  • Apakah kamu jadi mudah tersulut emosi oleh orang-orang di sekitarmu, bahkan oleh pengguna jasa atau klienmu? 
  • Apakah kamu semakin sinis dan kritis terkait pekerjaanmu? 
  • Apakah kamu sering merasa kekurangan energi untuk produktif sepanjang hari? 
  • Apakah kamu mengalami kesulitan ketika berusaha fokus dan konsentrasi? 
  • Apakah kamu tidak puas dengan capaian dan hasil kerjamu? 
  • Apakah kamu kecewa terhadap pekerjaanmu secara umum? 
  • Apakah kamu lari ke makanan, obat-obatan, atau alkohol untuk merasa lebih baik atau sekadar agar mati rasa? 
  • Apakah kebiasaan tidurmu berubah? 
  • Apakah kamu bermasalah dengan penyakit fisik yang tidak jelas penyebabnya, seperti sakit kepala, sakit perut, atau sakit fisik lainnya? 

Jika kamu menjawab “ya” untuk sebagian pertanyaan di atas, ada kemungkinan kamu mengalami burnout atau masalah kesehatan mental lainnya. Sebaiknya kamu menghubungi psikolog atau psikiater yang dapat memberikan diagnosis lebih tepat terhadap keadaan mentalmu.

kesehatan freelancers
Photo by Andrea Piacquadio: https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-dress-shirt-sitting-on-chair-3790224/

Tips Menjaga Kesehatan Mental Pekerja Lepas Indonesia 

Robin Madell, seorang konsultan karier, memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental bagi kamu pekerja lepas agar tidak burnout. Yuk, kita simak di bawah ini: 

Pilih pekerjaan dengan bijak 

Ketika memulai pertama kali sebagai freelancer, kamu mungkin menganut pola pikir “peminta-minta tidak berhak memilih” karena targetmu adalah mendapatkan penghasilan sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Untuk jangka pendek, cara itu memungkinkan untuk dilakukan, tetapi seiring waktu, ketika kamu mengambil terlalu banyak pekerjaan atau klien artinya kamu sedang melewati jalan tol menuju burnout.  

Daripada mengambil semua pekerjaan yang ditawarkan kepadamu, ada baiknya kamu memilah dengan bijaksana. Berikan waktu untuk mempelajari proyek atau pekerjaan yang akan kamu ambil. Apakah pekerjaan itu cocok dengan minat dan keahlianmu? Pahami juga seberapa besar beban kerja yang sanggup kamu kerjaan. Kamu perlu menyadari batas kemampuanmu, lho. Ingat, kita manusia biasa, kok, tidak apa-apa jika tidak sekuat pahlawan super seperti Wonder Woman atau Captain America! 

Ganti pemandangan saat bekerja 

Walaupun kamu memiliki pilihan untuk bekerja dari mana saja, kebanyakan pekerja lepas cenderung akan mencari kenyamanan beraktivitas di meja dan kursi yang sama dari hari ke hari. Terkadang, kita takut mengubah rutinitas karena perlu penyesuaian. Namun, kamu juga perlu mengalami hal baru agar ada penyegaran dan perspektif baru bagi pekerjaanmu. Kenapa tidak masukkan laptopmu ke tas lalu keluar rumah untuk bekerja di lokasi yang baru? Lakukan ini setiap kali kamu merasa stres karena berada di ruangan yang sama dari waktu ke waktu.  

Tentukan batasan jam kerjamu 

Red flag pekerja lepas adalah kesediaan bekerja di luar jam kerja biasanya. Memang ambisi untuk menyenangkan hati klien tidak ada salahnya. Lagi pula, itu akan membuat klien kembali mengontakmu atau merekomendasikan kamu ke orang lain. Namun, kamu tetap harus memiliki batasan jam kerja yang jelas. Bagaimanapun, setiap orang memiliki kapasitas kemampuan harian. Kenali batasan kamu. 

Terkadang ada masa-masa kamu harus mengejar tenggat waktu sehingga bekerja lebih lama pada hari itu, tetapi jangan jadi kebiasaan, ya! Tentukan dan patuhi jadwal kerjamu sendiri. Jangan sampai kamu tanpa sadar menghabiskan setiap malam duduk di meja kerja padahal sudah bekerja sejak pagi. Kamu juga butuh penyegaran seperti menonton drama favorit atau sekadar mengobrol dengan keluarga atau teman.  

Berikan variasi pada rutinitasmu 

Sebagai pekerja lepas, kamu bangga bisa punya kontrol yang cukup banyak terkait kapan dan di mana kamu bekerja. Namun, jika kamu bekerja lima hari seminggu, from 9 to 5, dari bulan ke bulan tanpa variasi, artinya kamu perlu sesekali mengubah  pola kerjamu.  

Cobalah nikmati jam-jam siangmu dengan bersantai dan bekerja di malam hari. Jika kamu tipe burung hantu yang cenderung lebih suka bekerja di malam hari, ganti jadi sebaliknya. Coba bekerja di siang hari minggu ini dan lakukan aktivitas yang santai atau hobi di malam hari.  

Pelihara keseimbangan pekerjaan dan hidupmu 

Pekerja lepas yang in the zone bisa jadi manusia robot atau mesin dengan komitmen dan kerelaan untuk bekerja dan menyelesaikan tugas demi tugas untuk klien-kliennya. Jika kamu merasa familier dengan ini, mungkin kamu sempat merasa seperti pekerja rodi atau romusha. 

Ingat kembali alasan kamu menjadi pekerja lepas, yaitu agar dapat seimbang antara kerja dan hidup serta fleksibilitas dalam waktu. Jangan hanya di kepala, dong…, aplikasikan ide tersebut dalam kehidupan freelancer kamu saat ini. Memang tidak mudah untuk dilakukan. Yang penting kamu harus ingat bahwa walaupun tenggat waktu sudah menghantui seperti bayangan raksasa, kamu tetap perlu makan yang layak, olahraga yang cukup, menghabiskan waktu untuk hal lain dalam hidupmu, seperti mengerjakan proyek yang sesuai dengan minat pribadi serta hangout dengan sahabat-sahabatmu.  

Beri jeda satu hari 

Kalau bekerja terus dan tidak pernah main, pikiranmu akan jadi tumpul. Tidak percaya? Coba saja! Hehehe. Hadiahkan untuk dirimu satu hari bebas, izinkan diri melepaskan pikiran sejenak dari pekerjaan. Pilih satu hari di mana kamu bisa tidak perlu menjawab pertanyaan klien setiap saat. Kamu dapat menghabiskan satu hari itu dengan jalan-jalan atau berjejaring. 

Networking (berjejaring) penting untuk kemajuan kariermu sebagai pekerja lepas. Setelah berkenalan dengan orang baru, kamu sekaligus mendapatkan klien potensial. Kamu bisa menghadiri seminar, konferensi, berpartisipasi di rumah ibadah, atau bertemu dengan teman lama yang terkait dengan industri pekerjaanmu. Dengan kemajuan teknologi sekarang, hal tersebut dapat dilakukan secara daring, kok.

Baik menjadi freelancer maupun pekerja kantoran, motivasi finansial pasti menjadi latar belakang yang kuat. Mungkin kamu juga akan tertarik mengatahui tentang Menuju Kebebasan Finansial dengan Terapkan Gaya Hidup Frugal

Masalah Mental Mempengaruhi Masalah Fisik? 

Ternyata kesehatan mental pekerja lepas Indonesia maupun pekerja lepas dibelahan dunia manapun sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan fisik. Menurut American Psychological Association (APA), stres seringkali memicu seseorang mengalami sakit perut, seperti nyeri, kembung, mual, bahkan muntah. Pada kondisi yang parah, sakit perut tersebut jadi GERD, yaitu asam lambung atau empedu mengalir ke saluran makanan dan mengiritasi dinding dalamnya. Refluks asam dan heartburn (asam lambung naik) lebih dari dua kali seminggu dapat mengindikasikan GERD. Seseorang mengalami stres kronis yang tidak kunjung diobati akan gampang sakit karena stres dapat melemahkan imun tubuh dari waktu ke waktu.  

Masalah kesehatan mental juga dapat memicu dan meningkatkan risiko terkena penyakit yang berbahaya. Mengutip situs Mayo Clinic, berikut adalah konsekuensi dari masalah mental akibat pekerjaan (burnout) yang terkait dengan fisik: 

  • Kelelahan fisik 
  • Insomnia 
  • Penyakit jantung 
  • Tekanan darah tinggi 
  • Diabetes tipe-2 
  • Mudah terpapar oleh virus atau bakteri sehingga gampang sakit 

Oleh karena itu, buat kamu yang pekerja lepas, kamu perlu memiliki asuransi kesehatan untuk proteksi keuanganmu ketika kamu sakit. Setidaknya kamu memiliki asuransi yang diselenggarakan oleh pemerintah, yaitu BPJS. 

Dengan kamu sudah mengetahui bahwa masalah kesehatan mental juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung, kamu dapat mempelajari Asuransi Penyakit Jantung dari Roojai Indonesia sebagai proteksi dari risiko finansial akibat penyakit jantung dan pilihan untuk pelengkap asuransi kesehatanmu yang lain/BPJS