Menu

“Dari segi penanganan, data dari klaim BPJS memperlihatkan kalau penyakit kritis menghabiskan kurang lebih 25% dari total klaim pembiayaan pada tahun 2020 lalu. Dari 25% tersebut, penyakit jantung menempati proporsi pembiayaan terbesar yaitu 49%, diikuti kanker (18%), stroke (13%), dan gagal ginjal (11%).”

Zen, sebut saja begitu, adalah ayah dua orang anak yang sedang beranjak remaja. Usianya baru 45 tahun waktu dokter menemukan adanya sumbatan fatal pada dua pembuluh darah di jantungnya. Terkejut bukan main, sebab selama ini Zen merasa bahwa kondisinya baik-baik saja. Ia biasa bersepeda seminggu sekali dan pola makannya cenderung sehat. Ketika sempat merasakan sesak di dada, ia menganggapnya sebagai efek dari asam lambung yang memang diidapnya.

Rasa kaget tersebut, kemudian diikuti oleh rasa tak tenang yang menjurus ke arah stres. Dokter menyarankan prosedur bypass untuk mengatasi penyumbatan tersebut. Operasi bypass itu sendiri memerlukan waktu perawatan dan pemulihan yang cukup lama, setidaknya satu bulan sampai ia bisa kembali beraktivitas normal.

Waktu pemulihan yang lama dan biaya-biaya operasional lainnya seperti transportasi bolak-balik ke rumah sakit, sudah pasti bakalan menguras isi kantongnya. Apalagi ia bekerja sebagai konsultan lepas, otomatis saat ia tidak bekerja, pemasukan pun nggak ada. Asuransi yang dimiliki Zen, ternyata tidak menutupi pengeluaran-pengeluaran tersebut.

Rasa cemasnya semakin mendera-dera mengetahui fakta bahwa ia belum terlepas dari risiko penyakit jantung. Ya meskipun sudah ditangani dengan operasi bypass, dokter menyebutkan bahwa riwayat penyakit jantung yang dimilikinya, gaya hidup yang dilingkupi stres, dan hiperkolesterol yang diidapnya, sangat berpotensi menimbulkan serangan jantung maupun hambatan di pembuluh jantung lainnya di kemudian hari. Ibarat hidup dengan bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Cerita tadi, bukan hanya dialami oleh Zen. Faktanya, ada banyak peristiwa serupa terjadi pada orang lain.

Risiko penyakit kritis

Tren pengidap penyakit kritis di Indonesia terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 memperlihatkan prevalensi atau angka kejadian penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan penyakit jantung, mengalami kenaikan jika dibanding Riskesdas sebelumnya di tahun 2013. Penyakit jantung misalnya, saat ini memiliki prevalensi 1,5%. Itu artinya, 15 dari 1.000 orang di Indonesia mengidap penyakit jantung.

Dari segi penanganan, data dari klaim BPJS memperlihatkan kalau penyakit kritis menghabiskan kurang lebih 25% dari total klaim pembiayaan pada tahun 2020 lalu. Dari 25% tersebut, penyakit jantung menempati proporsi pembiayaan terbesar yaitu 49%, diikuti kanker (18%), stroke (13%), dan gagal ginjal (11%).

Pun data World Health Organization (WHO) memperlihatkan bahwa penyakit kritis merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Itu sebabnya, seperti cerita Zen di atas, ketika penyakit kritis datang, ia pun seperti kalut. Menganggap bahwa ini adalah akhir dari segalanya.

Padahal, jika dideteksi sejak awal dan dengan teknologi kedokteran yang terus berkembang, penyakit ini masuk dalam kategori treatable alias dapat ditangani.

Sayangnya, banyak orang menunda untuk mendeteksi dan menangani penyakit kritis. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Secara psikologis, sebagian besar dari kita merasa lebih mudah menghindari penyakit ini dengan ‘tidak tahu’. Padahal banyak penyakit bisa dideteksi dini melalui pemeriksaan rutin.

Sementara dari faktor finansial, penundaan pengobatan terjadi karena tidak tersedianya dana.

Sebenarnya, berapa sih biaya pengobatan penyakit kritis?

Sebenarnya, berapa sih biaya pengobatan penyakit kritis? 

Nggak hanya berisiko tinggi menyebabkan kematian, pengobatan penyakit kritis menghabiskan biaya yang nggak sedikit. Tergantung dari jenis penyakitnya, jenis prosedur, obat-obatan dan stadium penyakit yang diidap, biaya pengobatan tersebut sangat bervariasi.

Selain nggak murah, inflasi juga menyebabkan kenaikan biaya pengobatan dari tahun ke tahun. Data Mercer Marsh Benefits di 2019 memprediksi kenaikan biaya medis di Indonesia sebesar 11 persen setiap tahun.

Sebagai gambaran untuk kamu, cek perkiraan biaya pengobatan penyakit kritis berikut ini*:

  • Kanker: kisaran Rp100 juta per bulan yang mencakup biaya obat-obatan, radioterapi atau kemoterapi, dan operasi
  • Jantung: 50-100 juta rupiah untuk pemasangan ring dan 150 hingga 300 juta rupiah untuk operasi bypass
  • Ginjal: 50-60 juta rupiah untuk hemodialisa atau cuci darah dalam setahun
  • Pengecekan jantung: 3,7 sampai 4 juta rupiah
  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis: 3,5 juta rupiah untuk pengobatan dan rawat inap

Salah satu penyakit kritis yang perlu mendapat coverage asuransi adalah penyakit jantung. Kenapa Kamu Perlu Punya Asuransi Penyakit Jantung? Ini Jawabannya!

Bayangkan jika kamu harus menanggung biaya operasi bypass yang mencapai ratusan, sementara pendapatan kamu nggak lebih dari 10 juta per bulan. Bisa-bisa kamu harus menguras tabungan dan bahkan menjual aset untuk menutupi biaya yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan BPJS?

Masyarakat Indonesia bisa berlega hati dengan kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional berupa BPJS Kesehatan, khususnya untuk menanggung biaya pengobatan penyakit kritis. Jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah bagi penduduk yang membayar iuran BPJS Kesehatan ini memang menanggung hampir semua jenis penyakit. Dengan BPJS Kesehatan ini kamu bisa mendapatkan penanganan penyakit kritis secara gratis.

Dengan manfaat ini, wajar jika kemudian kamu berpikir bahwa BPJS Kesehatan saja sudah cukup, khususnya dalam menghadapi penyakit kritis. Sayangnya, anggapan kamu ini tidak sepenuhnya benar. Jika ternyata penyakit kritis yang dialami sudah cukup parah, maka biaya yang perlu dikeluarkan akan lebih besar, karena ada kemungkinan kamu tidak lagi sanggup untuk bekerja.

Kamu mungkin juga tertarik untuk mempelajari artikel berikut yang menjawab Pentingkah untuk memiliki asuransi penyakit kritis? Apa saja manfaatnya? 

Ketika mengalami penyakit kritis yang cukup parah, maka kamu juga perlu mempersiapkan biaya untuk hal-hal yang tidak ditanggung asuransi kesehatan maupun BPJS, misalnya:

  • Biaya perjalanan dan akomodasi jika melakukan pengobatan yang jauh dari rumah.
  • Perawatan di rumah
  • Fisioterapi
  • Kursi roda atau tempat tidur khusus ketika kamu harus dirawat di rumah
  • Perawatan non-medis yang menunjang kenyamanan pasien, misalnya perawatan luka pasca operasi
Hadapi stress akibat penyakit

Lebih tenang hadapi penyakit kritis

Mengingat risikonya yang tinggi, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan supaya hidup kamu lebih tenang menghadapi penyakit kritis.

  • Lakukan pemeriksaan medis secara rutin. Sebagian besar penyakit kritis bisa dideteksi secara dini melalui medical check-up rutin maupun pemeriksaan secara mandiri. Kanker payudara misalnya bisa dideteksi dengan SADARI atau periksa payudara sendiri. Medical check-up rutin biasanya mengukur tanda vital seperti denyut jantung, pernapasan, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Pemeriksaan rutin ini bisa dilakukan setahun sekali. Ada juga pemeriksaan khusus seperti pap smear untuk mencegah kanker serviks pada perempuan. Pap smear dapat dilakukan sejak usia 21 tahun dan aktif berhubungan seksual.
  • Cek riwayat kesehatan. Sebagian besar penyakit kritis diturunkan dari orangtua kita. Penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara misalnya. Jadi akan lebih baik jika kita aware akan hal ini dan mulai melakukan pemeriksaan secara lebih dini serta menerapkan gaya hidup sehat untuk menghindarinya.
  • Terapkan gaya hidup sehat. Percuma melakukan pemeriksaan medis rutin jika kamu nggak menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah munculnya penyakit kritis. Selain faktor keturunan, penyakit kritis juga bisa timbul dari gaya hidup yang nggak sehat. Lakukanolahraga secara rutin, konsumsi makanan sehat, tidur yang cukup, hindari rokok dan minuman keras, serta hindari stres.
  • Lengkapi perlindungan kamu. Ini juga penting loh… Seperti sudah kamu tahu, biaya pengobatan biaya kritis itu mahal. Supaya kamu lebih siap dan tenang menghadapinya, pastikan kondisi keuangan kamu juga sehat. Selain asuransi kesehatan, lengkapi perlindungan dengan asuransi penyakit kritis.
    Asuransi penyakit kritis akan melengkapi perlindungan yang sudah kamu dapat dari asuransi kesehatan ataupun BPJS Kesehatan. Uang pertanggungan akan diberikan secara lump sum, sehingga bisa digunakan untuk menutupi biaya-biaya lain yang sudah ditanggung asuransi kesehatan.

Kenapa sih kamu perlu memiliki hidup yang lebih tenang, pastinya juga supaya kamu terhindar dari penyakit kritis seperti kanker, jantung, dsb sebagai imbas dari kondisi psikologis. Stres dan Kanker, Bagaimana Hubungan Keduanya? Cari Tahu Di Sini

Pilih asuransi penyakit kritis terbaik

Seperti namanya, asuransi penyakit kritis memberikan perlindungan finansial saat kamu mengidap penyakit kritis. Untuk memperoleh perlindungan terbaik, pastikan kamu memilih asuransi penyakit kritis yang sesuai dengan kebutuhan kamu.

Asuransi penyakit kritis dari Roojai memberikan perlindungan terbaik dari kategori penyakit kritis ini:

  • Kanker
  • Penyakit saraf (stroke, aneurisma)
  • Penyakit jantung
  • Gagal ginjal
  • Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk

Dengan perlindungan yang fleksibel, kamu bisa memilih salah satu atau beberapa dari 5 kategori asuransi penyakit kritis di atas. Kamu juga bisa mengatur sendiri perlindungan yang kamu inginkan, berdasarkan budget yang kamu punya. Jadi nggak usah khawatir karena nggak bisa bayar premi. Dengan Rp4.500 per bulan kamu sudah bisa menerima manfaatnya.

Perlindungan dari asuransi penyakit kritis ini juga bisa melengkapi manfaat yang kamu peroleh dari asuransi kesehatan lain atau BPJS Kesehatan. Uang pertanggungan ini bakal sangat membantu kamu menanggung beban finansial yang tidak ditanggung asuransi kesehatan. Jadi, kamu nggak perlu stres lagi menghadapi risiko penyakit kritis.

Yuk pelajari lebih lanjut tentang asuransi penyakit kritis dari Roojai dan lengkapi perlindungan kamu dengan asuransi penyakit kritis yang praktis dan fleksibel dari Roojai! Atau klik tombol di bawah kalau kamu mau mendapatkan penawaran dari kami.

Dian Pusparini

Ditulis oleh

Dian Pusparini

Head of Claim

Dian merupakan lulusan keperawatan di STIK St Carolus. Dian sudah bekerja selama 20 tahun, dengan pengalaman bekerja dibidang asuransi selama 18 tahun. Dian memiliki sertifikasi asuransi AAAK (Ajun Ahli Asuransi Kesehatan). Dian memahami betul betapa pentingnya kesehatan untuk kita. Sebagai Head of Claim, saat ini Dian senang berbagi pengetahuan dan tips seputar kesehatan.

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!