cek kesehatan tubuh

Kondisi tubuh kita berubah seiring perjalanan usia kita. Faktor gaya hidup seperti pola makan dan kebiasaan sehat yang sudah diterapkan juga tentu menentukan kondisi kesehatan kita di masa depan. Tetapi, layaknya mesin, tubuh kita mengalami penurunan fungsi berbarengan dengan bertambahnya umur.  

Itulah sebabnya, sangat dianjurkan untuk melakukan cek kesehatan tubuh secara rutin untuk mengetahui kondisi tubuh kita sebenarnya. Faktanya, walaupun tubuh terlihat segar-bugar, cek kesehatan tubuh yang dilakukan secara menyeluruh bisa menemukan gejala atau masalah kesehatan yang berpotensi menimbulkan penyakit yang lebih serius di masa mendatang.  

Selain itu, dengan melakukan cek kesehatan tubuh secara berkala, kamu jadi bisa lebih aware dengan kondisi tubuh kamu. Hal ini dapat memicu motivasi untuk menerapkan gaya hidup sehat juga loh.  

Lalu pemeriksaan atau cek kesehatan apa saja yang perlu dilakukan dan kapan sebaiknya kita melakukanKya?

Mammografi

Cek kesehatan tubuh mammografi atau mammogram menggunakan gambaran sinar-X untuk mendeteksi atau mendiagnosa adanya kanker payudara. Pemeriksaan ini bisa berfungsi untuk mengecek keberadaan kanker atau memastikan ada tidaknya kanker pada perempuan yang mengalami gejala. Mammogram bisa mendeteksi kanker bahkan sebelum benjolan bisa dirasakan melalui pemeriksaan fisik. 

Umumnya, perempuan berusia 45 sampai 54 tahun perlu melakukan pemeriksaan ini setahun sekali. Perempuan berusia 55 tahun ke atas perlu melakukan pemeriksaan ini setahun dua kali. Akan tetapi, mereka yang lebih berisiko karena memiliki kerabat dekat yang mengalami kanker payudara, mungkin perlu melakukan pemeriksaan lebih cepat.  

Dikutip dari situs Verywell.com, sekitar 12% perempuan yang melakukan pemeriksaan mammogram akan mendapatkan hasil abnormal. Dari angka tersebut, hanya 5% yang akhirnya didiagnosa dengan kanker payudara. Jadi, nggak perlu merasa khawatir ya.  

Hipertensi

Tahukah kamu, pengidap hipertensi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Dikutip dari Republika online, prevalensi hipertensi di Indonesia yang dirilis secara resmi oleh Kementerian Kesehatan pada 2018 adalah sebesar 34,1%. Sayangnya, saat ini Kemenkes belum mengeluarkan data pengidap hipertensi terbaru.  

Hipertensi atau kondisi tekanan darah tinggi bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit gagal ginjal. Untungnya, kondisi ini dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup dan juga pengobatan rutin.  

Cek kesehatan tubuh kamu dengan juga mengukur tekanan darah secara rutin, mulai usia kamu 18 tahun.  

Kolesterol

Kolesterol adalah senyawa yang diperlukan oleh tubuh untuk membuat hormon. Kolesterol juga membantu tubuh mencerna lemak. Tubuh kita membuat sendiri kolesterol yang diperlukan, tapi kita juga bisa mendapatkannya dari asupan makanan.  

Angka kolesterol yang tinggi, perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan lapisan kerak pada pembuluh darah. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Sayangnya, pengidap kolesterol tinggi kadang nggak merasakan gejala fisik secara nyata. Oleh sebab itu, cek kesehatan tubuh dengan melakukan pemeriksaan darah perlu dilakukan untuk melihat kadar kolesterol. 

Kadar kolesterol dapat diperiksa dengan cek darah. Untuk sebagian besar orang dewasa, pemeriksaan kolesterol perlu rutin dilakukan setelah berusia 20 tahun, dan dilakukan setiap 5 tahun. Dokter dapat memastikan seberapa sering kamu harus melakukan pemeriksaan ini, khususnya jika kamu memiliki faktor risiko.  

Pemeriksaan kanker ginekologi

Yang termasuk kanker ginekologi adalah kanker pada vagina, vulva, leher rahim, rahim, dan kandung telur. Meski demikian, hanya kanker leher rahim yang dapat dicegah melalui pemeriksaan rutin. Kamu yang berusia 25-65 tahun dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap tiga tahun sekali (walaupun sudah vaksin HPV). Sementara setelah usia 65 tahun, kalau hasil tes selalu normal, maka tes pap smear bisa dihentikan.  

Deteksi kanker leher rahim secara dini sangat berdampak pada penurunan angka kematian akibat kanker leher rahim.

Kanker serviks memang tidak dapat dideteksi secara khusus, namun dapat dideteksi dari beberapa gejalanya. Yuk, kenali beberapa gejala kanker serviks untuk membantu kamu mendapatkan penanganan yang lebih efektif. 

Diabetes Tipe 2

Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam menggunakan glukosa untuk energi. International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan jumlah pengidap diabetes di Indonesia pada 2021 mencapai 19,47 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan angka pengidap diabetes pada 2011 yang mencapai 7,29. IDF memperkirakan jumlah pengidap diabetes di Indonesia akan mencapai 28,57 juta pada 2045. Diabetes merupakan kondisi serius yang meningkatkan risiko gagal jantung, kebutaan, dan penyakit jantung.   

Diabetes tipe 2 adalah kondisi yang bisa ditangani; semakin cepat dideteksi, semakin baik penanganannya. Hampir sebagian besar orang dewasa sehat tidak memerlukan pemeriksaan diabetes secara rutin. Pemeriksaan diabetes ini lebih direkomendasikan untuk mereka yang berusia 35-70 tahun yang mengalami obesitas.  

Pemeriksaan diabetes tipe 2 dilakukan dengan mengukur kadar gula darah setelah berpuasa. Melakukan perubahan gaya hidup, yaitu dengan menerapkan pola makan sehat, berolahraga, dan pengobatan, diabetes bisa dicegah pada mereka yang menunjukkan gejala awal diabetes atau pradiabetes.

Elektrokardiogram

Elektrokardiogram merupakan pemeriksaan yang berguna untuk mendeteksi masalah jantung dengan cepat dan memonitor kesehatan jantung. EKG dapat merekam sinyal elektrik jantung. Pemeriksaan ini umum dilakukan dan nggak menyakitkan.  

Pemeriksaan EKG umumnya disarankan pada mereka yang mengalami gejala penyakit jantung, misalnya nyeri dada, kesulitan bernapas, dan detak jantung tidak beraturan. Selain itu, pemeriksaan ini juga disarankan pada seseorang jika ternyata ia memiliki faktor risiko penyakit jantung, misalnya ada riwayat keluarga, mengidap kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, merokok, dan faktor risiko lainnya.

Penyakit jantung masih jadi momok yang menakutkan. Namun risiko penyakit jantung bisa dihindari dengan melakukan beberapa kebiasaan sehat ini secara rutin.

Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh berkurangnya kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh. Setelah perempuan mengalami menopause, risiko osteoporosis akan meningkat tajam dan bisa menyebabkan masalah kesehatan dan risiko patah tulang ataupun keretakan tulang panggul. Untungnya, osteoporosis bisa ditangani jika terdeteksi secara dini.  

Pemeriksaan osteoporosis direkomendasikan untuk perempuan berusia 65 tahun ke atas, dan juga perempuan yang sudah memasuki masa menopause.  

Untuk mendeteksi risiko osteoporosis, akan dilakukan pemeriksaan DEXA atau dual-energy x-ray absorptiometry. Pemeriksaan ini akan menentukan densitas atau kepadatan mineral di dalam tulang kamu. Idealnya, pemeriksaan ini dilakukan setiap 15 tahun sekali atau kurang dari itu jika memang diperlukan.  

Pemeriksaan Mata dan Telinga

Pemeriksaan mata bisa dilakukan untuk menemukan adanya masalah pada penglihatan. Berkonsultasilah dengan dokter untuk menentukan seberapa sering pemeriksaan ini perlu dilakukan. Beberapa kondisi kesehatan menyebabkan pemeriksaan ini perlu dilakukan lebih sering, misalnya pada pengidap diabetes.  

Selain mata, masalah pada pendengaran juga merupakan hal yang kerap terjadi di usia senja. Berkurangnya pendengaran bisa memengaruhi kualitas hidup dan juga berkurangnya kemandirian seseorang.  

Untuk sebagian besar orang dewasa yang sehat, pemeriksaan pendengaran bukanlah hal yang wajib. Namun kalau kamu khawatir akan hal ini atau merasakan adanya gejala, mintalah pada dokter untuk melakukan pemeriksaan. Jika diperlukan, dokter akan memberikan alat bantu pendengaran untuk mengatasi hal ini. 

Cek kesehatan tubuh jauh lebih mudah daripada menjalani pengobatan. Beberapa bahkan bisa dilakukan secara gratis. Pemeriksaan ini berfungsi layaknya safety net yang menjaga diri kamu dari hal yang lebih merugikan di masa depan.  

Seperti halnya juga asuransi dari Roojai yang memberikan ketenangan hati karena akan melindungi kamu dari risiko finansial yang bisa terjadi ketika kamu mengalami penyakit kritis. Asuransi Penyakit Kritis dari Roojai Indonesia merupakan perlindungan dari beban keuangan akibat mahalnya biaya penyakit kritis seperti kanker, jantung, saraf dan gagal ginjal.

Dr. Amalia Ika N

Ditulis oleh

Dr. Amalia Ika N

Medical Claim Manager

Sebagai lulusan fakultas kedokteran di Universitas Atma Jaya, dr Amalia sudah bekerja dibidang Kesehatan selama 2 tahun dan pernah memiliki sertifikat dibidang Kesehatan seperti ACLS dan Hiperkes. dr Amalia juga sudah bekerja dibidang asuransi selama 11 tahun dan memiliki beberapa sertifikat untuk Underwriting & Claim, Basic Sharia dan Risk Management . Saat ini dr Amalia sebagai Medical Claim Manager senang berbagi tips dan pengetahuan seputar asuransi dan kesehatan.

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang

Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!