Menu

deteksi dini kanker nasofaring | roojai.co.id

Kanker nasofaring dikategorikan sebagai kanker kepala dan leher. Kanker ini berkembang dari nasofaring, area di belakang hidung, termasuk bagian belakang atas tenggorokan. Seperti jenis kanker kepala dan leher lainnya, kanker nasofaring kerap diasosiasikan dengan infeksi virus. Uniknya, kasus kanker ini lebih sering ditemukan di Asia Tenggara dibanding bagian dunia yang lain. Kanker nasofaring sulit dideteksi secara dini disebabkan pemeriksaan yang rumit dan gejala yang tidak spesifik. Lalu bagaimana mendeteksi dini kanker nasofaring, dan bagaimana ciri-cirinya?

Kanker nasofaring di Indonesia 

Penyakit kanker nasofaring menjadi salah satu beban global, dengan jumlah kasus sebanyak 176.500 di dunia. Angka kejadian kanker nasofaring ini ternyata lebih tinggi pada beberapa wilayah dunia, yaitu di China, Hong Kong, dan Asia Tenggara. Di wilayah ini kasus kanker nasofaring mencapai 10-30 kali lipat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. 

Bagaimana dengan Indonesia? Kanker nasofaring termasuk salah satu jenis kanker yang cukup sering ditemukan di Indonesia. Jumlah kasus kanker nasofaring di Indonesia menduduki peringkat ke-4 setelah kanker serviks, payudara dan kulit. Diperkirakan ada sekitar 6,2 kasus kanker nasofaring per 100.000 penduduk Indonesia, dengan sekitar 12.000 kasus baru setiap tahunnya. 

Jumlah kasus ini dibilang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di dunia, misalnya Eropa maupun Amerika. Sayangnya, belum diketahui secara pasti kenapa kasus kanker nasofaring lebih tinggi di Indonesia. Diperlukan penelitian yang mendalam untuk mencari penyebabnya. 

Tipe kanker nasofaring

Kanker nasofaring bisa dibagi menjadi tiga tipe, berdasarkan sel yang terlibat dalam pertumbuhan kankernya, yaitu: 

  • Karsinoma sel skuamosa nasofaring: ini adalah jenis kanker nasofaring yang paling umum. Karsinoma sel skuamosa terbentuk dari sel-sel yang melapisi permukaan nasofaring. Kanker ini sering dikaitkan dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). 
  • Karsinoma non-sel skuamosa: lebih jarang terjadi dibandingkan karsinoma sel skuamosa, kanker ini mencakup kanker seperti karsinoma sel basal, adenokarsinoma dan karsinoma adenoskuamosa. 
  • Sarkoma nasofaring: kanker yang berasal dari jaringan lunak dan tulang, biasanya muncul dari jaringan lunak di daerah nasofaring. 

Meskipun terdiri dari jenis yang berbeda, penanganan kanker nasofaring tidak jauh berbeda. Akan tetapi, beberapa jenis kanker lebih rumit diobati dibanding jenis lainnya. 

Ciri-ciri kanker nasofaring

ciri-ciri kanker nasofaring | roojai.co.id

Seperti sudah sempat disinggung, gejala kanker nasofaring tidaklah terlalu spesifik, terutama jika masih di tahap awal. Ciri-ciri kanker nasofaring stadium awal bisa dikatakan mirip penyakit flu, misalnya hidung tersumbat, keluar lendir yang berdarah, atau infeksi saluran pernapasan atas yang kerap kambuh. 

Selain itu, kanker nasofaring bisa ditandai dengan adanya pembengkakan pada leher. Hal ini akibat adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher. Tetapi perlu kamu ketahui, bahwa benjolan di leher juga bisa jadi salah satu gejala kanker kelenjar getah bening.

Ciri-ciri kanker nasofaring yang lain adalah adanya masalah pendengaran atau telinga yang berdenging. Hanya saja gangguan pendengaran atau tinnitus ini sering dianggap gejala penyakit biasa. 

Jika pertumbuhan sel kanker sudah semakin besar, gejala akan terasa lebih nyata. Misalnya adanya rasa nyeri atau tekanan pada wajah, terutama di sekitar hidung atau mata. 

Selain ciri-ciri tersebut, gejala kanker nasofaring yang lain adalah: 

  • Cairan di telinga
  • Tekanan pada hidung bagian atas (nasal)
  • Sakit kepala 
  • Pandangan kabur 
  • Ada area yang terasa kebas pada wajah 
  • Berat badan turun 
  • Perubahan suara

Penyebab kanker nasofaring

Walaupun penyebabnya belum dipahami sepenuhnya, beberapa faktor risiko diduga berperan memicu timbulnya kanker nasofaring:

  • Infeksi virus Epstein-Barr (EBV): American Cancer Society memperlihatkan kaitan tingginya infeksi EBV pada pasien kanker nasofaring di wilayah tertentu. 
  • Faktor genetik: Riwayat keluarga dengan kanker nasofaring bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. 
  • Asap rokok dan asap rokok pasif: Paparan terhadap asap rokok baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa meningkatkan risiko kanker nasofaring seseorang. 

Deteksi dini kanker nasofaring

Kalau kamu mengalami beberapa gejala kanker nasofaring, sebaiknya segera periksakan diri kamu ke dokter. Lebih cepat, lebih baik. 

Untuk menegakkan diagnosa kanker nasofaring, pemeriksaan awal yang dilakukan adalah tanya jawab dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan keluarga dan kondisi kesehatan kamu saat ini. Kemudian dokter akan memeriksa leher dan area di sekitarnya untuk melihat adanya benjolan. Pemeriksaan juga akan dilakukan pada hidung dan tenggorokan.

Jika dari pemeriksaan ini dokter mencurigai adanya kanker nasofaring, maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan MRI. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lain yang diperlukan, tergantung dari situasinya.  

Misalnya jika dokter sudah mendeteksi adanya pertumbuhan sel kanker, maka bisa dilakukan prosedur pemeriksaan nasofaring menggunakan kabel dan kamera kecil ke dalam area nasofaring. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan visual di area kanker. 

Selanjutnya, pemeriksaan biopsi bisa dilakukan untuk mengkonfirmasi kondisi keparahan sel kanker. Selain itu karena eratnya kaitan antara infeksi EBV dan kanker nasofaring, pemeriksaan darah untuk melihat keberadaan virus ini juga perlu dilakukan. 

Salah satu cara untuk menentukan stadium dalam kanker yaitu dengan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa tes untuk menentukan clinical staging, sebuah prediksi yang didasari oleh seberapa jauh sel kanker telah menyebar. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan pemeriksaan pemeriksaan dini, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

Penanganan kanker nasofaring

Penanganan kanker nasofaring pada setiap pasien bisa berbeda, tergantung dari stadium kanker dan kondisi kesehatan pasien. Beberapa jenis pengobatan kanker nasofaring ini adalah pilihan yang bisa diambil: 

  • Radioterapi: Menggunakan sinar-X atau partikel berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker 
  • Kemoterapi: Dengan obat-obatan khusus membunuh sel kanker atau menghentikan pertumbuhannya. 
  • Imunoterapi: Terapi yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel-sel kanker. 
  • Pembedahan: Pada beberapa kasus, pilihan prosedur operasi tidak bisa dielakkan. Prosedur ini biasanya dilakukan untuk mengangkat sel tumor. 

Itulah beberapa ciri, penyebab, dan pengobatan kanker nasofaring. Dampak penyakit kanker tidak bisa dipandang sebelah mata, tidak hanya bagi tubuh pengidap tapi juga pada kondisi finansialnya. Sebagian besar pengobatan kanker menggunakan obat-obatan yang mahal. Belum lagi pengobatan tersebut perlu dilakukan dalam jangka waktu yang lama. 

Itulah sebabnya, perlindungan finansial dari asuransi kanker bisa membantu memberikan penggantian biaya untuk penanganan kanker nasofaring. Asuransi kanker bisa digunakan sebagai pelengkap asuransi kesehatan yang lain, termasuk BPJS. Santunan tunai langsung yang didapatkan dari asuransi ketika seseorang terdiagnosa mengalami kanker, bisa berfungsi sebagai pengganti biaya yang hilang untuk kamu dan keluarga. Apalagi, asuransi kanker dari Roojai bisa diperoleh dengan membayar premi mulai dari 20 ribu rupiah/bulan saja.

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!