Menu

kemoterapi untuk kanker, mana yang paling ampuh | roojai.co.id

Mendengar kata kanker, sebagian orang langsung juga mengasosiasikannya dengan kemoterapi. Hal ini tidak terlepas dari beberapa film populer yang menggambarkan perjuangan pasien kanker dalam melawan penyakit yang dianggap mematikan ini. Kemoterapi memang merupakan salah satu jenis penanganan kanker yang umum dikenal masyarakat. Tapi sebenarnya ada banyak jenis kemoterapi untuk kanker yang biasanya dikategorikan berdasarkan jenis obat yang digunakan. 

Apa saja jenis kemoterapi yang banyak digunakan untuk menangani penyakit kanker?

Apa itu kemoterapi?

Penanganan penyakit kanker berkembang pesat selama satu dekade ini. Perkembangan perawatan penyakit kanker dimulai dari ditemukannya sinar X oleh Wilhelm Conrad Roentgen. 

Kemoterapi mulai dilirik sebagai salah satu terapi untuk kanker pada awal permulaan abad ke-20. Meskipun begitu, awalnya kemoterapi masih belum diaplikasikan kepada pasien kanker. Terapi ini baru mulai diterapkan ketika para ahli kesehatan berkesimpulan bahwa teknik bedah dan radiasi hanya bisa memberikan tingkat kesembuhan tidak lebih dari 33%. Salah satu sebabnya adalah sel kanker yang mengalami mikrometastasis atau terus berkembang.

Istilah kemoterapi itu sendiri digunakan pertama kali oleh ahli kimia terkemuka asal Jerman, Paul Ehrlich. Ia meneliti penggunaan obat-obatan untuk menangani penyakit menular. Paul lah yang pertama kali menjabarkan penggunaan kimia untuk mengobati penyakit. Beliau juga yang memperkenalkan penggunaan model penyakit pada binatang untuk mencari zat kimia yang memiliki potensi terapetik pada penyakit manusia. 
Secara singkatnya, ini adalah metode pengobatan yang umum digunakan untuk melawan kanker. Prosedur ini menggunakan obat-obatan khusus untuk menghancurkan sel-sel penyebab kanker yang berkembang di tubuh.

Fungsi kemoterapi

Tujuan dari kemoterapi adalah untuk menghambat kembang biak sel kanker dan tumor, sehingga menekan invasi sel kanker ke bagian tubuh lain. Sayangnya, efek toksik bahan kimia ini juga dialami oleh sel tubuh yang normal. Akan tetapi, penghambatan pertumbuhan sel kanker tersebut terjadi dalam level yang berbeda-beda,, baik pada sel kanker maupun lingkungannya. 

Obat kemoterapi kanker biasanya bekerja dengan mempengaruhi pertumbuhan sel kanker yakni mengganggu sintesis DNA, RNA atau protein yang menjadi bagian sel, atau memengaruhi fungsi molekul yang telah terbentuk sebelumnya. Jika gangguan pada sintesis sel ini cukup besar, maka sel kanker akan berhenti berkembang bahkan mati.

Kemoterapi kombinasi merupakan pilihan umum untuk hasil yang memadai, dengan menghambat perkembangan sel kanker yang resisten. Saat ini para peneliti terus merancang terapi kemoterapi yang lebih efektif, yaitu yang bertarget molekuler. Artinya, terapi ini diharapkan dapat secara selektif menghambat pertumbuhan sel tanpa menimbulkan kerusakan pada jaringan sel yang sehat.

Jenis-jenis kemoterapi berdasarkan obatnya

Ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk kemoterapi, yang biasanya ditentukan dari jenis kanker, stadium, dan kondisi kesehatan pasien kanker. Obat kemoterapi tersebut dikategorikan berdasarkan struktur kimianya, cara kerja, dan hubungannya dengan obat lain.

Jenis-jenis kemoterapi | roojai.co.id

Cara kerja obat yang berbeda, menyebabkan efek dan biaya kemoterapi yang berbeda juga. Dokter dapat memprediksi dan mengantisipasi dampak samping kemoterapi dengan mengetahui struktur dan cara kerja obatnya. 

Seringkali kondisi pasien memerlukan lebih dari satu obat kemoterapi. Jika ini yang diperlukan, dokter akan menentukan kombinasi obat apa yang bisa membantu kondisi pasien dan kapan obat tersebut harus diberikan.

Dilansir dari American Cancer Society, berikut ini beberapa jenis obat kemoterapi yang umum diberikan kepada pasien kanker: 

Agen Alkilasi

Obat jenis ini bekerja dengan cara menghentikan reproduksi sel dengan cara merusak DNA sel tersebut. Obat-obatan jenis ini ampuh diberikan pada semua fase siklus sel dan juga pada berbagai jenis sel kanker, di antaranya sel kanker paru-paru, payudara, ovarium serta leukemia. 

Bekerja dengan merusak DNA sel, agen alkilasi bisa mempengaruhi sel-sel sumsum tulang yang berperan dalam pembuatan sel darah baru. Oleh sebab itu, obat jenis ini bisa meningkatkan risiko leukemia walaupun sangat jarang terjadi. Risiko leukemia akibat penggunaan obat ini meningkat seiring tingginya dosis yang diberikan. Selain dipengaruhi tinggi-rendahnya dosis, risiko leukemia juga diperkirakan berada pada puncaknya setelah penggunaan agen alkilasi selama 5 hingga 10 tahun. 

Beberapa jenis obat kemoterapi yang tergolong agen alkilasi adalah Altretamine, Bendamustine, Busulfan, Carboplatin, Carmustine, dan  Nitrosourea yang biasa diterapkan pada pasien kanker otak. 

Antimetabolit

Obat kemoterapi jenis ini bisa menghambat sel kanker dengan cara mengganggu susunan DNA dan RNA yang seharusnya. Ketika hal ini terjadi, DNA tidak sanggup membuat salinan dirinya sendiri sehingga sel tidak dapat bereproduksi. Obat kemoterapi jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati leukemia, kanker ovarium, payudara, dan saluran pencernaan. Contoh obat antimetabolit adalah Azacitidine 5-fluorouracil atau yang dikenal dengan 5-FU, 6-mercaptopurine (6-MP), Capecitabine, Cladribine, dan Fludarabine. 

Antibiotik Anti-tumor

Obat kemoterapi jenis ini tidak sama dengan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi. Obat jenis ini bekerja dengan mengubah DNA di dalam sel kanker yang pada akhirnya bisa menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakannya. 

Obat kemoterapi antibiotik dibagi menjadi beberapa kategori lagi, yaitu: 

  • Antrasiklin, yaitu obat antibiotik anti-tumor yang bekerja dengan mengganggu enzim yang berperan menyalin DNA selama siklus sel. Dengan demikian, sel kanker tidak dapat mereproduksi dirinya sendiri. Enzim merupakan protein yang memulai atau mempercepat kecepatan reaksi kimia dalam sel. 
  • Salah satu dampak negatif penggunaan obat ini adalah kerusakan jantung permanen jika diberikan dalam dosis tinggi. Sehingga, batasan dosis akumulatif perlu ditetapkan untuk mencegah dampak negatifnya. 

Penghambat Topoisomerase

Jenis kemoterapi yang juga disebut alkaloid tanaman ini menghambat pertumbuhan sel kanker dengan cara mengganggu enzim topoisomerase. Enzim inilah yang berperan memisahkan untaian DNA ketika proses perkembangbiakannya. 

Obat jenis ini digunakan untuk mengobati beberapa jenis leukemia, kanker paru, ovarium, saluran pencernaan, kolorektal dan pankreas. 

Penghambat Mitosis

Berasal dari produk alami seperti tumbuhan, obat jenis ini bekerja dengan menghentikan pembelahan sel kanker. Obat jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker payudara, paru, mieloma, limfoma, dan leukemia. Dampak negatifnya adalah dapat menyebabkan kerusakan saraf, sehingga dosis penggunaannya harus dibatasi. 

Kortikosteroid

Obat kemoterapi jenis steroid ini adalah hormon alami yang digunakan sebagai bagian dari jenis pengobatan kanker. Obat ini juga biasa digunakan untuk membantu mencegah mual dan muntah yang mengikuti kemoterapi. Selain itu, pada beberapa kasus  obat ini juga digunakan sebelum kemoterapi untuk mencegah reaksi alergi yang parah. 

Obat kemoterapi lainnya

Tidak semua jenis obat kemoterapi bekerja dengan cara yang sama. Obat kemoterapi yang berbeda cara kerjanya biasanya tidak cocok digunakan dengan obat kemoterapi lain.

Penggunaan obat-obatan kemoterapi

Dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor seperti jenis kanker, stadium, dan kondisi kesehatan pasien untuk menentukan jenis obat kemoterapi untuk pasien kanker. Untuk beberapa kasus, kombinasi beberapa jenis obat kemoterapi diperlukan untuk hasil yang efektif. 

Menurut informasi dari situs Mayo Clinic, obat kemoterapi bisa diberikan kepada pasien dengan beberapa cara, di antaranya: 

  • Infus kemoterapi: merupakan jenis pemberian obat kemoterapi yang paling umum, yaitu obat cair dimasukkan ke dalam tubuh melalui jarum suntik. 
  • Krim kemoterapi: obat berbentuk oles ini biasanya diberikan untuk menangani kanker kulit. 
  • Obat kemoterapi yang diberikan untuk mengobati satu area tubuh: misalnya diberikan langsung di perut, rongga dada, atau sistem saraf pusat. 
  • Obat yang diberikan langsung ke sel kanker atau area tempat kanker berada. Misalnya lempengan tipis berbentuk cakram yang mengandung obat kemoterapi ditempatkan di dekat tumor selama operasi. Lempengan itu akan terurai seiring waktu, melepaskan obat secara bertahap. Selain itu, obat kemoterapi juga bisa disuntikkan ke pembuluh darah yang langsung memasok sel kanker/tumor. 

Apapun jenis obat kemoterapinya, biaya pengobatan penyakit kritis seperti kanker tidaklah murah. Biaya kemoterapi berada di kisaran 500 ribu rupiah sampai 7 juta rupiah untuk sekali terapi. Meskipun terhitung lebih murah dibandingkan pengobatan kanker yang lain, kemoterapi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Frekuensi kemoterapi akan ditentukan oleh dokter berdasarkan tingkat keparahan kanker, jenis kanker, maupun kondisi kesehatan pasien.

Untuk mengurangi beban finansial pasien kanker inilah asuransi kanker  akan sangat bermanfaat. Asuransi penyakit kritis dari Roojai Indonesia memberikan manfaat tunai yang bisa digunakan untuk menutupi biaya pengobatan, terapi, maupun perawatan yang tidak ditanggung oleh BPJS atau asuransi kesehatan.

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!