Waspada Tanda-tanda Kanker Kalau Kamu Punya Kebiasaan Ini

Gaya Hidup & Kesehatan | Oktober 26, 2022

kebiasaan terkait kanker

Tubuh kita terdiri dari triliunan sel. Banyak sekali, ya? Sepanjang hidup kita, setiap sel tumbuh dan berkembang (membelah atau mengganda) sesuai dengan kebutuhan tubuh. Sel-sel yang menua atau abnormal biasanya akan mati lalu digantikan oleh sel yang baru dan berfungsi normal. Namun, ketika ada kejanggalan dalam proses siklus hidup sel, seperti sel-sel baru tetap diproduksi tetapi sel tua dan abnormal tidak mati dan diganti, saat itulah kanker terjadi. Sel yang abnormal bisa berarti sel kanker. Jika sel kanker tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali, sel-sel normal akan kalah dalam jumlah. Sel kanker akan menyerang sel yang sehat sehingga membuat jaringan bahkan organ tubuh kita tidak berfungsi dengan baik.

Data Kanker di Indonesia 

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), prevalensi kanker di Indonesia menunjukkan peningkatan dari 1,4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Data Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO) mencatat total kasus kanker di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 396.914 kasus dan dalam 234.511 kasus penyakit ini menyebabkan kematian.  

Masih berdasarkan data Globocan 2020, lima jenis kanker yang paling banyak diderita oleh penduduk Indonesia (untuk kedua jenis kelamin) pada tahun 2020 adalah: (1) kanker payudara, (2) kanker serviks, (3) kanker paru-paru, (4) kanker usus besar, dan (5) kanker hati. Jika dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, lima jumlah kasus kanker paling tinggi pada pria Indonesia adalah (1) kanker paru-paru, (2) kanker usus besar, (3) kanker hati, (4) kanker nasofaring, dan (5) kanker prostat. Sedangkan pada wanita Indonesia, kasus (1) kanker payudara adalah yang paling banyak jumlahnya, diikuti (2) kanker serviks, (3) kanker ovarium, (4) kanker usus besar, dan (5) kanker tiroid. 

Kanker sudah dikenal sejak lama dalam dunia kesehatan sebagai penyebab kematian kedua terbanyak di seluruh dunia. Umumnya, kanker tidak menimbulkan gejala pada awal perkembangannya. Dalam kebanyakan kasus, setelah cukup terlambat, kanker baru dideteksi dan diobati pada tahap stadium lanjut. Makanya penting bagi kita untuk melakukan skrining atau pemeriksaan kesehatan secara berkala agar kanker dapat terdeteksi secara dini. Lebih penting lagi bagi kita untuk memperhatikan kebiasaan sehari-hari. Jangan-jangan yang sering kita lakukan malah menjadi faktor risiko terkena kanker. Uh, jangan sampai, ya!  

Kebiasan-kebiasan Terkait Erat dengan Kanker 

Untuk menghindari risiko terkena kanker, mari sama-sama kita simak informasi dari cancer.org tentang kebiasaan sehari-hari apa saja yang menyebabkan meningkatnya risiko seseorang terkena kanker.  

 1. Merokok 

Segala jenis produk rokok dan cerutu terbuat dari daun tembakau kering, sedangkan bahan-bahan lain (aditif) ditambahkan untuk rasa agar kegiatan merokok menjadi lebih menyenangkan. Asap rokok menghasilkan campuran kompleks zat kimiawi yang berasal dari pembakaran tembakau dan aditif di dalamnya. Tahukah kamu bahwa rokok tembakau terdiri atas ribuan bahan kimia, termasuk setidaknya 70 zat diketahui dapat menyebabkan kanker? Bahan kimia yang mampu menyebabkan kanker disebut karsinogen.  

Beberapa bahan kimia berbahaya yang bisa ditemukan dalam rokok: Nikotin (zat adiktif yang memproduksi efek ketagihan pada otak perokok), hidrogen sianida, formaldehida, timbal, arsenik, amonia, benzena, karbon monoksida, nitrosamina spesifik-tembakau (TSNAs), dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAHs). Kebanyakan bahan-bahan di atas dapat menyebabkan kanker paru-paru, jantung koroner, dan masalah kesehatan yang serius lainnya. Ngeri… 

Dengan perkembangan teknologi, saat ini sudah ada rokok yang tidak dibakar (smokeless tobacco), yaitu produk rokok tembakau yang dipanaskan, dikunyah, dilarutkan, bahkan rokok elektrik (vape). Meskipun level bahan karsinogen yang dihasilkan lebih rendah, bukan berarti produk-produk ini tidak berbahaya. Lebih baik menghindari rokok dan produk tembakau sama sekali. Oh, iya, tidak hanya perokok yang memiliki faktor risiko kanker, perokok pasif pun memiliki risiko jika jumlah zat berbahaya yang dihirup cukup tinggi sehingga menyebabkan kanker paru-paru. 

2. Tidak menjaga diet 

Seseorang dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki faktor risiko kanker lebih tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh American Cancer Society, kelebihan berat badan dianggap sebagai penyebab dari 11% kasus kanker pada wanita dan 5% kasus kanker pria di AS, serta 7% dari semua kasus kematian akibat kanker. Sudah banyak penelitian lain yang memberikan kesimpulan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan terkena kanker, termasuk kanker payudara (terutama pada wanita menopause), kanker usus besar, kanker endometrium, kanker kantung empedu, kanker ginjal, kanker tiroid, kanker prostat, kanker payudara pada pria, dll. 

Namun, perlu kamu ketahui, perihal kaitan berat badan dengan kanker. Beberapa kanker, seperti kanker endometrium, sangat dipengaruhi oleh berat badan berlebih dibandingkan jenis kanker lainnya. Risiko kanker payudara lebih tinggi pada wanita yang obesitas di masa menopause dibandingkan pada wanita yang belum menopause. Kelebihan berat badan di masa kecil dan remaja merupakan faktor risiko tinggi dibandingkan orang yang berat badannya bertambah di usia dewasa. Beberapa penelitian menyarankan perempuan remaja obesitas untuk berhati-hati dengan risiko kanker ovarium sebelum masa menopause.  

Kampanye body positivity sangat gencar di media sosial, tetapi ada salah kaprah yang menganggap obesitas bukan masalah kesehatan. Tentu saja self love bagus untuk kesehatan mental, tetapi kita perlu mengetahui bahwa kelebihan lemak di dalam badan meningkatkan risiko kanker, lho! Lemak mengganggu keseimbangan tubuh kita dengan mempengaruhi: inflamasi dalam tubuh; pertumbuhan sel dan pembuluh darah; kemampuan sel-sel untuk hidup lebih lama daripada seharusnya; tingkat hormon tertentu, seperti insulin dan estrogen, yang dapat memicu pertumbuhan sel; serta dapat membantu penyebaran sel kanker (metastasis). 

Menurunkan berat badan dapat mengurangi risiko kanker meski penelitian mengenai hal ini masih terbatas. Paling tidak, penurunan berat badan dapat mengurangi tingkat hormon yang terkait kanker, yaitu insulin, estrogen, dan androgen. Selain risiko kanker dapat ditekan, mengurangi berat badan juga bermanfaat untuk mengurangi risiko sakit jantung dan diabetes. Semuanya penyakit kritis, tuh! 

3. Mengonsumsi alkohol secara berlebihan 

Kebiasaan meminum alkohol yang berlebihan menjadi penyebab pada 6% kasus kanker dan 4% kematian akibat kanker di AS. Kanker yang dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebih adalah kanker mulut, kanker tenggorokan (faring dan laring), kanker kerongkongan, kanker hati, kanker usus besar, dan  kanker payudara. Alkohol juga meningkatkan risiko kanker perut dan jenis kanker lainnya.  

Semakin banyak alkohol yang diminum, maka semakin tinggi kemungkinan seseorang terkena kanker. Kita juga mungkin sering melihat bahwa minum alkohol dan merokok dilakukan pada saat bersamaan, maka risiko kanker jadi berkali-kali lipat meningkat. Alkohol membantu karsinogen di dalam rokok untuk masuk ke sel-sel yang ada di mulut, kerongkongan, dan esofagus (saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung). Ketika masuk ke dalam tubuh, alkohol diubah menjadi asetaldehida, zat kimia yang dapat merusak DNA dalam sel sehingga menyebabkan kanker. Alkohol juga menghambat kemampuan sel untuk memperbaiki DNA yang rusak akibat bahan berbahaya di dalam rokok. 

Konsumsi alkohol dalam jangka waktu panjang dikaitkan dengan risiko kanker hati. Jika kamu setiap hari minum alkohol, akan mengalami inflamasi, bahkan sirosis hati. Jika sudah demikian, kemungkinan terkena kanker hati jauh lebih besar. Konsumsi alkohol dalam jumlah sedikit pun dapat dikaitkan dengan risiko kanker payudara pada wanita, disebabkan alkohol meningkatkan hormon estrogen di dalam tubuh. Pada pria yang mengkonsumsi alkohol, risiko kanker usus besar lebih tinggi dibandingkan pada wanita yang mengkonsumsi alkohol.

4. Terpapar radiasi ultraviolet (UV)  

Radiasi Ultraviolet (UV) merupakan salah satu radiasi elektromagnetik dari matahari dan sumber buatan seperti mesin tanning dan api alat pengelasan. Matahari merupakan sumber utama radiasi UV yang terdiri atas UVA dan UVB. Kanker kulit dapat disebabkan oleh paparan sinar UV yang terlalu kuat dan dalam jangka waktu lama.  

Kuatnya sinar UV sampai ke bumi dipengaruhi beberapa faktor, yakni: (a) waktu dalam sehari: sinar UV paling kuat di antara pukul 10 pagi sampai 4 sore; (b) jarak lokasi dari ekuator (garis lintang): semakin jauh tempatnya dari ekuator maka semakin turun paparan sinar UV; (c) ketinggian: semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut maka semakin kuat sinar UV; (d) kondisi langit: meskipun langit berawan, sinar UV tetap dapat mencapai permukaan bumi; (e) refleksi permukaan: sinar UV dapat memantul di permukaan seperti air, pasir, aspal, bahkan rerumputan, sehingga meningkatkan paparan UV. 

Dengan mengetahui hal di atas, perhatikan apakah kamu terkena paparan sinar UV atau tidak. Jumlah paparan sinar UV masing-masing orang tergantung seberapa kuat sinarnya, seberapa lama kulit kita terpapar, dan apakah kulit terlindungi oleh pakaian atau tabir surya (sunscreen). Ayo, jangan malas menggunakan sunscreen demi mengurangi risiko terkena kanker, ya! 

Gejala-gejala Kanker 

Setelah kamu mengetahui empat kebiasaan yang menyebabkan kanker, kamu perlu mengetahui gejala-gejala kanker. Tanda-tanda dan gejala yang disebabkan oleh kanker dapat bervariasi, tergantung bagian tubuh mana yang diserang sel kanker.  

Mengutip situs kesehatan Mayo Clinic, berikut tanda dan gejala yang terkait kanker, meski tidak selalu terkait dengan kanker, namun perlu kamu waspadai gejala-gejala berikut: 

  • Kelelahan 
  • Benjolan atau ada area penebalan yang terasa di bawah kulit 
  • Berat badan berubah, termasuk berkurang atau bertambah tanpa diusahakan 
  • Kulit berubah, semacam menguning, menggelap, atau memerah; ruam tidak hilang dan terdapat perubahan pada tahi lalat 
  • Perubahan kebiasaan buang air kecil dan besar 
  • Batuk yang tak kunjung sembuh atau gangguan pernapasan 
  • Kesulitan menelan 
  • Suara serak 
  • Gangguan pencernaan setiap kali selesai makan 
  • Nyeri otot dan sendi yang tak terjelaskan 
  • Berkeringat karena demam di malam hari  
  • Terluka atau memar tanpa sebab yang jelas 

Terapkan Pola Hidup Sehat 

Semua kebiasaan-kebiasaan di atas dapat dihindari. Pastinya kamu tetap ingin sehat dan jauh-jauh dari risiko kanker, kan? Oleh karena itu, biasakan hidup secara sehat. Jagalah pola makan dan lakukan aktivitas fisik, seperti olahraga secara teratur, berhentilah merokok, dan jaga berat badan ideal sesuai BMI (Body Mass Index) sehingga tidak obesitas. Menurut The World Cancer Research Fund, sekitar 18% kasus diagnosis kanker terkait dengan kegemukan, kurang gerak, konsumsi alkohol, dan diet minim nutrisi, yang mana semua faktor risiko tersebut dalam dihindari.   

Kamu dapat mengecek angka BMI di sini agar mengetahui kondisimu sekarang serta rencana untuk menjadikan berat badanmu ideal. Skor BMI dihitung berdasarkan tinggi dan berat badan. Kamu memiliki berat badan normal jika memiliki skor BMI antara 18,5 – 25. Jika kamu berusaha menjaga berat badan, langkah pertama adalah dengan memperhatikan porsi makan, terutama makanan yang tinggi kalori, lemak, dan gula. Untuk kamu yang kelebihan berat badan atau obesitas, menurunkan sedikit berat badan memiliki manfaat besar untuk menjaga kesehatan dan menekan faktor risiko kanker. 

Jika kamu merasakan gejala-gejala seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada baiknya kamu segera menghubungi dokter dan lakukan skrining kesehatan agar lebih tenang.

Proteksi Penyakit Kritis 

Selain itu, agar ketenanganmu juga mencakup hal keuangan, kamu memerlukan proteksi keuangan berupa asuransi penyakit kritis. Kita memang tidak mengharapkan kanker terjadi, tetapi bersamaan dengan pola hidup sehat untuk mencegah risiko, asuransi penyakit kritis juga sangat dibutuhkan. Asuransi Penyakit Kritis dari Roojai Indonesia merupakan pilihan tepat untuk melengkapi asuransi kesehatan utama atau BPJS kamu. Jika kamu didiagnosa penyakit kanker, kamu tetap bisa mengajukan klaim meskipun biaya perawatanmu sudah ditanggung oleh asuransi lain. Wah, keren banget!

Dengan memiliki asuransi penyakit kritis, kamu mendapatkan proteksi dari beban keuangan akibat mahalnya biaya perawatan rumah sakit, bahkan untuk prosedur medis baru yang mungkin tidak ditanggung oleh asuransi utama kamu. Selain itu, asuransi ini juga sebagai pengganti biaya yang hilang untuk kamu dan keluarga disebabkan dalam perawatan penyakit kritis. Luangkan waktu kamu untuk mempelajari informasi selengkapnya agar dapat memperoleh ketenangan paripurna dalam menjalankan kebiasaan sehari-hari serta melindungi diri dan keluarga.