Penyebab Kanker Serviks untuk Kamu Kenali

Gaya Hidup & Kesehatan |

Kanker serviks adalah jenis kanker yang paling sering dialami perempuan, setelah kanker payudara. Menurut Observasi Kanker Dunia, pada tahun 2020 ada 50 kasus kanker serviks terdeteksi setiap harinya di Indonesia.  

Meski begitu, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kanker serviks sudah nggak lagi menjadi momok. Meski sempat menyandang predikat sebagai kanker penyebab kematian tertinggi pada perempuan di AS, sistem skrining yang lebih canggih dan vaksinasi membantu menurunkan angka ini. Bahkan, kanker serviks sangat jarang ditemukan pada perempuan yang melakukan pemeriksaan teratur sebelum usia 65 tahun. 

Apa penyebab kanker serviks? 

Keberadaan human papillomavirus atau HPV di dalam tubuh menjadi faktor utama penyebab kanker serviks. Bahkan menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), HPV inilah yang jadi penyebab 9 dari 10 kasus kanker leher rahim.

Ada berbagai jenis atau strain (galur) virus human papilloma. Beberapa galur virus ini merupakan penyebab kutil di alat kelamin yang sebenarnya nggak terkait dengan kanker itu sendiri. Galur virus yang demikian ini merupakan tipe yang berisiko rendah.  

Namun beberapa galur HPV diketahui berisiko tinggi dan punya kaitan erat dengan kanker. Ada 14 galur HPV dengan status berisiko tinggi, dengan galur HPV-16 dan HPV-18 sebagai dua yang paling berisiko.  

Virus ini bisa berpindah inang, dari satu orang ke orang lain, melalui kontak erat skin-to-skin dan juga hubungan seksual. Tetapi, bukan berarti setiap orang yang memiliki virus HPV di dalam tubuhnya akan otomatis mengidap kanker. Virus ini bisa bersemayam dalam tubuh manusia tanpa menyebabkan gejala maupun penyakit.  

Virus HPV sebenarnya sangat umum, loh. Bahkan diperkirakan, lebih dari 80 persen perempuan akan terpapar HPV setidaknya sekali dalam hidupnya. Sayangnya, masih banyak yang menganggap HPV sebagai virus yang dikaitkan dengan aktivitas seks bebas. 

Lalu bagaimana virus ini bisa menyebabkan kanker serviks?  

Ketika terpapar HPV, sistem imun tubuh akan dengan sigap mengatasi infeksi yang disebabkannya. Sayangnya pada beberapa kasus, HPV berisiko tinggi akan bertahan dengan gigih dan mensabotase sifat sel. Akibatnya sel tubuh jadi berkembang-biak di luar kendali, sekaligus menghalangi kerja protein penindas tumor yang bertugas mencegah pertumbuhan sel kanker. 

Faktor risiko kanker serviks 

Selain keberadaan virus HPV, beberapa faktor juga bisa meningkatkan risiko kanker serviks. Faktor risiko kanker serviks di antaranya:  

  • Merokok tembakau. Menurut American Cancer Society, perempuan yang merokok, dua kali lebih berisiko mengidap kanker serviks dibanding perempuan yang tidak merokok.  
  • Memiliki imunitas tubuh yang lemah. Sistem kekebalan tubuh membantu kita melawan sel kanker, sehingga imunitas yang lemah bisa meningkatkan risiko kanker serviks. Kondisi ini biasanya timbul akibat masalah kesehatan tertentu, misalnya mengidap HIV (human immunodeficiency virus), mengonsumsi obat-obatan yang bersifat menekan kekebalan tubuh, menjalani pengobatan kanker, atau menerima transplantasi organ.  
  • Punya riwayat keluarga. Kamu lebih berisiko kalau salah satu kerabat perempuan dalam keluarga kamu, terutama ibu atau saudara kandung, mengidap kanker serviks.  
  • Riwayat perilaku seksual yang tidak aman. Kegiatan seksual yang tidak aman membuat kamu lebih berisiko terpapar HPV. Contoh perilaku seksual tersebut adalah punya banyak partner seksual, sudah aktif secara seksual sebelum usia 18 tahun, atau kamu punya pasangan dengan perilaku seksual yang berisiko.  
  • Menggunakan kontrasepsi oral dalam jangka waktu yang lama. Risiko kanker serviks akan menurun saat kamu berhenti mengonsumsi pil kontrasepsi.  
  • Hamil lebih dari sekali. Perempuan yang melahirkan 3 anak atau lebih, punya risiko kanker serviks yang lebih tinggi.  
  • Mengidap chlamydia. Beberapa penelitian menemukan kaitan chlamydia (salah satu penyakit menular seksual) dengan tingginya risiko kanker serviks.  
  • Pola makan rendah nutrisi. Mereka yang nggak secara rutin atau hanya mengonsumsi sedikit buah-buahan, sayuran, dan antioksidan, bisa punya risiko kanker serviks lebih tinggi.  
  • Status ekonomi. Perempuan dari keluarga berpendapatan rendah dan tidak dapat mengakses fasilitas kesehatan termasuk skrining kanker serviks, lebih berisiko.  

Punya satu atau beberapa faktor risiko kanker serviks, bukan berarti kamu bakal atau pasti akan mengidap kanker serviks. Meski lebih berisiko, masih ada kemungkinan kamu terbebas dari vonis kanker serviks.  

Semua perempuan bisa terkena kanker serviks 

Kanker serviks bisa terjadi pada perempuan di semua umur. Akan tetapi, hasil studi memperlihatkan adanya kecenderungan kejadian kanker serviks sebagai berikut:  

  • Paling umum terdiagnosa pada perempuan berusia antara 35 sampai 44 tahun  
  • Usia rata-rata pada saat diagnosa adalah 50 tahun 
  • Lebih dari 20 persen kanker serviks terdiagnosa pada perempuan berusia 65 tahun ke atas
perempuan sehat, bebas kanker serviks
Image by lookstudio on Freepik

Lalu bagaimana mencegah kanker serviks? Ada banyak yang bisa kita lakukan untuk terhindar dari kanker serviks atau menurunkan risikonya. Dua yang paling berperan penting adalah mendapatkan vaksinasi HPV dan memastikan skrining dilakukan secara berkala. 

Ingat ya, kemungkinan atau angka kesembuhan kanker serviks jauh lebih baik jika terdeteksi di stadium awal. Oleh sebab itu, kalau kamu mengalami satu atau beberapa dari gejala kanker serviks, segera periksakan diri ke dokter.  

Proteksi dari risiko finansial ketika menghadapi kanker serviks 

Asuransi Penyakit Kritis untuk Kanker dari Roojai Indonesia memberikan proteksi dari risiko finansial saat terdiagnosa terkena penyakit kritis, termasuk untuk penyakit kanker serviks sejak stadium awal. Proteksi ini memberikan benefit sebagai proteksi tambahan, sehingga kamu akan tetap dapat melakukan klaim walaupun perawatanmu sudah dicover oleh asuransi lain atau BPJS. Pelajari lebih lanjut untuk mendapatkan informasi selengkapnya.