Menu

penularan cacar monyet | roojai.co.id

Merebaknya kasus cacar monyet atau monkeypox di Indonesia akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Meski jarang menyebabkan kematian, penularan cacar monyet bisa menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih berat dibandingkan dengan cacar air.  Bagaimana penyakit ini bisa merebak, apa gejala yang ditimbulkan, dan bagaimana mencegah penularan cacar monyet?

Kasus Cacar Monyet di Indonesia

Cacar monyet adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Monkeypox Virus (MPXV) yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus. Mirip dengan penyebab cacar air, virus ini bisa menular melalui binatang. 

Kasus cacar monyet pertama kali ditemukan di Denmark pada tahun 1958. Namun saat itu kasus cacar terjadi pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian. Sebab itu pula penyakit ini disebut cacar monyet. Adapun kasus cacar monyet pada manusia, pertama kali diketahui pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo, Afrika Tengah.

Di Indonesia, kasus cacar monyet pertama kali terkonfirmasi pada Agustus 2022, terjadi pada seorang pasien pria setelah pulang bepergian dari Belgia. Kasus cacar monyet kembali menjadi perhatian karena meningkat cukup tajam pada Oktober lalu. Dikutip dari situs berita cnbcindonesia.com, tercatat ada 27 kasus terkonfirmasi cacar monyet sampai akhir bulan Oktober. Pada akhir November 2023, kasus ini berkembang menjadi 59 kasus. 

Berita baiknya adalah, tercatat per 29 November 61% di antaranya sudah sembuh. Tingkat fatalitas cacar monyet itu sendiri kurang dari 0.001% total kasus atau jauh lebih rendah dibanding Covid-19. Walaupun begitu, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena sangat menular. 

World Health Organization (WHO) pun menetapkan cacar monyet sebagai darurat kesehatan internasional pada Juli 2022 karena disimpulkan bahwa banyak aspek “tidak biasa” yang ditunjukkan oleh wabah penyakit ini. 

Tanda dan Gejala Cacar Monyet

Gejala virus cacar monyet umumnya timbul atau terlihat dalam jangka waktu seminggu setelah seseorang terpapar virusnya. Namun gejala juga bisa timbul 1 sampai 21 hari setelah terpapar. Gejala yang muncul biasanya berlangsung selama 2-4 minggu. Akan tetapi gejala tersebut juga bisa bertahan lebih lama, terutama kalau pengidap memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah. 

Hampir mirip dengan penyakit cacar lainnya, tanda-tanda  cacar monyet seperti: 

  • ruam 
  • demam 
  • sakit tenggorokan
  • merasa tidak berenergi 
  • sakit kepala 
  • nyeri otot
  • sakit punggung
  • pembengkakan kelenjar getah bening 

Akan tetapi, gejala bisa sangat bervariasi pada setiap orang. Misalnya saja pasien A hanya mengalami ruam, sementara pada pasien B selain ruam gejalanya juga diikuti dengan nyeri otot, demam dan sakit kepala. Begitu pula tingkat keparahannya, bisa berbeda pada setiap pasien. 

Salah satu gejala khas cacar air adalah ruam yang berkembang menjadi melepuh berisi cairan yang terasa gatal atau nyeri. Ruam akan mengering, mengeras dan kemudian rontok ketika sembuh. Lesi kulit yang disebabkan ruam ini juga bervariasi pada setiap orang. Ada yang memiliki satu atau beberapa buah lesi saja, sementara pada orang lain terdapat ratusan lebih lesi. 

Selain itu, lesi ini akan muncul di bagian tubuh berikut ini: 

  • telapak tangan dan telapak kaki 
  • muka, mulut, dan tenggorokan 
  • daerah selangkangan dan alat kelamin 
  • dubur

Dilansir dari situs cnnindonesia, bukan tidak mungkin cacar monyet menyebabkan komplikasi. Jika infeksi virus berlanjut, bisa saja timbul komplikasi di area pernapasan dan menyebabkan peradangan paru atau pneumonia. Sebuah penelitian menemukan virus cacar monyet akan meningkatkan protein yang terlibat dalam peradangan berat pada paru. 

Pada tahap lebih lanjut, cacar monyet juga bisa menimbulkan ensefalitis atau peradangan pada otak dan yang terparah adalah sepsis yaitu saat infeksi menyebabkan reaksi berantai dari seluruh tubuh sehingga berpotensi menyebabkan kematian. 

Mencegah Penularan Cacar Monyet

cara mencegah cacar monyet | roojai.co.id

Walaupun angka kejadian cacar monyet di Indonesia terbilang kecil, usaha tetap perlu dilakukan untuk mencegah penularannya. Cara penularan cacar monyet terbilang cukup mudah, seperti melalui  sentuhan kulit, melalui air liur, dan bersentuhan dengan benda yang terkontaminasi.

Dari berbagai kasus cacar monyet yang terjadi di Indonesia maupun di dunia, penyakit ini memang nyatanya lebih sering terjadi pada pria dewasa. Akan tetapi, bukan tidak mungkin penyakit ini juga dialami wanita ataupun anak-anak. Berbagai langkah ini bisa dilakukan untuk mencegah penularan cacar monyet: 

1. Hindari Kontak Langsung dengan Pengidap atau Hewan yang Terinfeksi

Penyakit cacar monyet merupakan zoonosis, atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Dalam kasus ini, monyet yang mengalami cacar bisa menularkan virus ke manusia yang berkontak langsung dengannya. Selain itu, pastinya kamu juga perlu menghindari kontak langsung dengan pengidap cacar monyet. 

2. Hindari Menggunakan Barang yang Terkontaminasi Virus

Virus penyebab cacar monyet juga bisa berpindah dari barang yang terkontaminasi. Oleh sebab itu, hindari menggunakan barang yang sama dengan pengidap. Pisahkan peralatan makan pasien cacar monyet, misalnya gelas, sendok, dan piring. Hindari juga menyentuh langsung tempat tidur, handuk, serta pakaian pasien cacar monyet. 

3. Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Rutin 

Mencuci tangan menggunakan sabun atau desinfektan bisa membantu mencegah penularan cacar monyet. Cuci tangan sebelum makan dan menyentuh wajah, untuk meminimalisir kemungkinan virus masuk ke dalam tubuh. 

4. Gunakan APD ketika Harus Kontak dengan Pasien Cacar Monyet

Kalau kamu harus melakukan kontak dengan pengidap cacar monyet, misalnya harus merawat, gunakan pakaian pelindung diri atau APD lengkap. Pakaian ini membantu mencegah kontak langsung dengan pasien. 

5. Jaga Kekebalan Tubuh

Seperti halnya kebanyakan virus dan bakteri, infeksi bisa dicegah jika imunitas tubuh kita kuat. Oleh sebab itu, jaga imunitas tubuh dengan menjalani pola hidup sehat. Seperti mengkonsumsi makan bernutrisi, olahraga teratur, menghindari stres, dan tidur yang cukup adalah pondasi kekebalan tubuh kita. 

6. Hindari Konsumsi Daging Mentah

Cacar monyet adalah penyakit zoonosis yang berasal dari hewan. Oleh sebab itu, pastikan daging yang kamu konsumsi sudah matang supaya virus dan bakteri yang terkandung di dalamnya sudah benar-benar mati. Atau kamu juga bisa mencoba mengganti daging merah dengan daging plant-based yang memiliki banyak manfaat untuk tubuh.

7. Vaksinasi

Untuk penyakit yang disebabkan oleh virus seperti cacar monyet ini, maka vaksinasi menjadi salah satu upaya untuk mencegah penularan. Dilansir dari halodoc, saat ini FDA sudah menyetujui dua vaksin cacar monyet, yaitu:

  • Jynneos atau Imvanes: vaksin ini mengandung virus hidup dan perlu diberikan sebanyak dua dosis dengan jarak 4 minggu. 
  • ACAM2000: vaksin yang mengandung virus hidup dan bisa digunakan untuk mengobati maupun mencegah cacar monyet ini.

Dengan mengikuti langkah-langkah pencegahan di atas, risiko terkena infeksi cacar monyet pun bisa menurun. 

Meskipun cacar monyet jarang terjadi, langkah pencegahan bisa membantu melindungi diri dari penyakit ini. Selain itu, tetaplah waspada khususnya bagi mereka yang sering berinteraksi dengan hewan-hewan. Dengan perhatian ekstra terhadap kebersihan dan pencegahan, semoga kita bisa mencegah penularan cacar monyet, ya. 

Namun untuk beberapa penyakit, upaya pencegahan saja tidak cukup. Misalnya untuk penyakit kritis yang memerlukan perawatan jangka panjang dan pengobatan yang rutin. Untuk kasus ini pencegahan juga perlu dibarengi dengan pengelolaan risiko dari segi finansial. Salah satu caranya adalah dengan memiliki perlindungan berupa asuransi penyakit kritis. Asuransi ini bisa menanggung biaya pengobatan dan juga pengeluaran lain yang terkait dengan penyakit kritis.
Apalagi Asuransi Penyakit Kritis dari Roojai memberikan kemudahan dalam proses pembeliannya dan juga keleluasaan dalam pemilihan produknya secara online. Kamu bisa memilih manfaat yang sesuai dengan budget dan kebutuhan. Tertarik? Dapatkan penawarannya sekarang!

Ditulis oleh

Dian Pusparini

Head of Claim

Dian merupakan lulusan keperawatan di STIK St Carolus. Dian sudah bekerja selama 20 tahun, dengan pengalaman bekerja dibidang asuransi selama 18 tahun. Dian memiliki sertifikasi asuransi AAAK (Ajun Ahli Asuransi Kesehatan). Dian memahami betul betapa pentingnya kesehatan untuk kita. Sebagai Head of Claim, saat ini Dian senang berbagi pengetahuan dan tips seputar kesehatan.

Bagikan:

Asuransi Online Paling Terjangkau dan Inovatif di Asia Tenggara

Dapatkan Penawaran Asuransi Online yang Asuransi Online yang Mudah, Terjangkau, dan Dapat Diandalkan

|

Lihat premi dalam 30 detik.
Gak perlu kasih info kontak!