Mencegah DBD di Tengah Perubahan Iklim, Ini yang Harus Kamu Lakukan

Gaya Hidup & Kesehatan | Jul 04, 2022

Cegah demam berdarah

Mencegah DBD bukan perkara sepele. Buktinya, setiap musim DBD tiba, fasilitas kesehatan kita selalu kewalahan dibuatnya. Pun nggak bisa dipungkiri kalau penyakit DBD masih berpotensi menyebabkan fatalitas.

Untuk kita yang tinggal di negara tropis, penyakit DBD atau demam berdarah alias dengue fever ini memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bisa dibilang seperti itu karena nyamuk pembawa virus dengue, yaitu Aedes aegypti, memang hidup makmur di wilayah-wilayah bercuaca hangat. Nyamuk maupun patogen yang menyebabkan penyakit DBD ini populasinya meningkat seiring naiknya suhu dan bertambahnya curah hujan di suatu wilayah.

Walaupun seakan-akan dianggap penyakit yang lumrah, DBD bukanlah bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Buktinya, setiap musim DBD tiba, fasilitas kesehatan kita selalu kewalahan dibuatnya. Pun nggak bisa dipungkiri kalau penyakit DBD masih berpotensi menyebabkan fatalitas.  

Dengan perubahan iklim (climate change) yang terjadi diseluruh dunia sekarang ini, bagaimana pengaruhnya terhadap peningkatan kasus DBD? 

Perubahan iklim dan penyakit DBD 

DBD termasuk golongan zoonosis atau penyakit yang penularannya dari hewan ke manusia. Infeksi tersebut dipicu mikroorganisme penyebab penyakit (patogen), contohnya virus, bakteri atau parasit. Patogen yang berpindah tersebut, kemudian berkembang di dalam tubuh manusia melalui serangkaian mutasi gen. Dalam kasus DBD, nyamuk disebut sebagai agen patogen, yang menularkan patogen ke tubuh manusia.  

Dilansir Mongabay, pakar kesehatan hewan dari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS), Tri Satya Putri Naipospos menyebutkan bahwa perubahan iklim membawa konsekuensi pada lingkungan. Di antaranya kenaikan suhu, kelembapan, curah hujan yang tidak stabil, yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku agen patogen tadi.  

Curah hujan tinggi akibat perubahan iklim menyebabkan musim hujan berkepanjangan. Hujan menyebabkan lebih banyak genangan. Kondisi ini sangat disukai nyamuk penyebab DBD dan membuatnya nyaman untuk berkembang biak dan akhirnya meningkatkan populasi nyamuk.

Kalau kamKalau kamu punya hobi bersepeda, tapi perubahan iklim jadi membuat kamu ragu bersepeda, saat kamu ingin Bersepeda Saat Hujan? Baca Ini Dulu Supaya Gowes Tetap Aman.

Sementara, kelembapan udara tinggi yang disebabkan oleh peningkatan curah hujan juga membuat nyamuk penyebab DBD jadi lebih aktif dan sering menggigit. Menurut sebuah studi, 80 persen kasus dengue terjadi di tempat dengan kelembapan udara rata-rata 75 persen.  

Begitu pula dengan peningkatan suhu udara yang disebabkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global. Kondisi ini dapat meningkatkan laju replikasi virus, memperpendek jendela penularan virus, dan mempercepat laju kembang biak nyamuk Aedes aegypti. Kompas.com menuliskan adanya studi yang memperlihatkan peningkatan laju infeksi dan perkembangan virus dengue pada nyamuk penyebab DBD di suhu 28 derajat Celcius, dibandingkan pada suhu 23 derajat Celcius.

Selain perubahan iklim, hampir setiap negara di dunia juga sedang menghadapi banyak gejolak dan tantangan. Lalu bagaimana kamu bisa Atur Keuangan dan Penuhi Biaya Asuransi Kesehatan Bahkan Di Tengah Berbagai Ketidakpastian? Simak artikelnya ya!

Ini cara virus DBD menginfeksi tubuh kamu

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa DBD merupakan salah satu potensi kerugian negara dari sektor kesehatan akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Nggak tanggung-tanggung, angka kerugian yang diprediksi mencapai Rp31 triliun, dalam kurun tahun 2020 hingga 2024. Angka kerugian ini timbul dari prediksi peningkatan angka kejadian DBD di Indonesia, dari tahun ke tahun.  

Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan angka kejadian penyakit DBD atau infeksi dengue tertinggi di kawasan Asia. Awal tahun 2022 ini, berbarengan dengan kedatangan musim penghujan, angka DBD di Indonesia sudah mencapai lebih dari 22.000 kasus hingga akhir Maret saja.  

Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengatasi DBD adalah karena keberadaan semua serotip virus dengue di Indonesia, yaitu virus DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Tiap jenis virus memiliki karakteristis dan pola penyebarannya sendiri.

Setelah nyamuk pembawa patogen tersebut menggigit, virus akan masuk dan mengalir dalam darah dan kemudian menginfeksi sel-sel kulit terdekat. Virus dengue juga menginfeksi dan berkembang biak di dalam sel Langerhans, sel yang khusus menjaga kekebalan tubuh dan berada di lapisan kulit. Normalnya, sel ini bertugas membatasi penyebaran infeksi. Akan tetapi bila sudah terinfeksi virus, ia kehilangan fungsinya dan bahkan menyebarkan infeksi ke lebih banyak sel yang masih sehat.  

Untuk melawan infeksi virus di dalam tubuh, sistem imun kita akan menghasilkan antibodi khusus yang akan menetralkan partikel virus dengue. Begitu pula dengan sistem kekebalan cadangan, akan diaktifkan untuk ‘bersekongkol’ dengan  antibodi dan sel darah putih dalam melawan virus. Proses perlawanan inilah yang muncul sebagai gejala-gejala yang dialami tubuh; dari demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh yang terasa lelah.  

Begitu pulih, kamu akan memiliki imunitas atas strain/galur virus dengue yang menginfeksi kamu. Namun kamu belum punya kekebalan untuk galur yang lain. Sehingga, kamu masih bisa terkena DBD dari galur virus dengue yang lain.

Pencegahan DBD yang bisa dilakukan di rumah 

Untuk mencegah dengue, bisa kita mulai dengan mencegah berkembang-biaknya nyamuk pembawa patogen alias si nyamuk Aedes aegypti. Untuk menekan populasinya, kita bisa menjaga kebersihan lingkungan rumah maupun kantor dan sekolah. Nggak hanya dengan menerapkan prinsip 3M dalam mencegah DBD yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur genangan air. Terus, apa aja yang bisa kita lakukan?  

1. Menguras air  

Nyamuk Aedes paling suka tinggal dan berkembang di air yang tidak bergerak seperti di genangan air. Cek rumah kamu, apakah ada tempat atau wadah yang menyimpan air dalam jangka waktu lama. Misalnya vas bunga atau yang kamu isi dengan tanaman, bak air, atau penampungan air hujan atau dispenser.  

Nyamuk betina biasanya akan bertelur di dinding atau permukaan. Setelah itu telur akan menetas menjadi larva yang hidup di air, atau yang biasa kita kenal dengan jentik nyamuk. Jentik tersebut kemudian akan tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Siklus perkembang-biakan nyamuk dari telur sampai nyamuk dewasa adalah sekitar 8-10 hari. Oleh sebab itu, frekuensi yang disarankan untuk menguras air dari wadah-wadah tersebut adalah seminggu sekali.  

2. Cegah nyamuk masuk 

Nyamuk senang beraktivitas di daerah yang lembap dan memungkinkan mereka berlindung dari sinar matahari, misalnya di kebun rumah kamu. Supaya nyamuk nggak masuk ke dalam rumah, kamu bisa memasang kawat atau kasa nyamuk di ventilasi rumah kamu. Sementara itu, supaya nyamuk nggak curi-curi menggigit kulit kamu waktu sedang tidur, pasang kelambu di area tempat tidur, ya.  

3. Pangkas dan bersihkan kebun kamu 

Pekarangan yang rimbun dan hijau memang bikin adem hati kamu. Tapi, area ini juga jadi tempat favorit bagi si nyamuk untuk berkembang-biak. Rumput yang lebat dan semak liar bisa jadi sarang nyamuk. Apalagi saat musim hujan datang, akan timbul sisa-sisa genangan di area pekarangan atau yang tersembunyi di sela tanaman, tempat nyamuk menelurkan jentik.  

Bersihkan pekarangan dengan merapikan daun-daun ataupun semak liar. Pastikan pula tidak ada kaleng atau pot bekas yang bisa menampung air hujan dan menimbulkan genangan. Tutup lubang di permukaan tanah atau pekarangan dengan batu. Supaya lebih aman, lakukan pemeriksaan pekarangan seminggu sekali.  

4. Manfaatkan tanaman anti nyamuk 

Ada juga tanaman yang bersifat antinyamuk yang bisa kamu manfaatkan untuk mencegah nyamuk bersarang di rumah kamu. Tanaman lavender, serai, peppermint, dan geranium memiliki wangi yang tidak disukai nyamuk. Kamu bisa menanamnya di pekarangan rumah atau di dalam pot dan menaruhnya di dalam rumah.  

Wewangian dari tanaman tersebut juga digunakan dalam lilin aromaterapi atau pewangi rumah buatan. Kamu bisa menggunakannya di dalam rumah untuk mengusir nyamuk dari rumah. 

5. Hindari menggantung pakaian atau tas di area terbuka 

Sebaiknya simpan tas di dalam lemari dan segera cuci pakaian bekas. Tas dan pakaian yang menggantung, apalagi yang berwarna hitam atau gelap, akan menjadi tempat favorit bagi nyamuk untuk bertelur dan bekembang biak. Apalagi ternyata, nyamuk sangat menyukai aroma tubuh manusia. Jadi kalau sudah nggak terpakai, segera masukkan pakaian itu ke dalam keranjang laundry, ya! 

Pencegahan DBD yang bisa kamu lakukan sendiri  

Selain melakukan pencegahan di rumah, kamu juga bisa menerapkan langkah pencegahan ini sebagai cara mencegah demam berdarah.  

1. Menggunakan lotion anti nyamuk 

Lindungi diri kamu dari gigitan nyamuk dengan mengoleskan lotion antinyamuk di rumah atau saat beraktivitas di area yang rawan gigitan nyamuk. Oleskan lotion atau krim tersebut pada area tubuh yang tidak tertutup pakaian. Lihat petunjuk penggunaan lotion untuk mendapatkan manfaatnya secara optimal. Umumnya, kamu perlu mengoleskan lotion antinyamuk setiap 3 jam sekali.  

2. Jaga daya tahan tubuh kamu 

Patogen seperti bakteri dan virus akan ‘kalah perang’ jika tubuh kamu memiliki ‘benteng’ atau daya tahan tubuh yang kuat. Walhasil meskipun si nyamuk berhasil menggigit kulit kamu, virusnya nggak akan berkembang biak di dalam tubuh kamu.  

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, di antaranya istirahat atau tidur yang cukup, menghindari stres berlebihan, konsumsi makanan yang bersih dan bernutrisi tinggi, serta berolahraga secara teratur.  

3. Vaksin DBD 

Mungkin banyak yang belum tahu kalau vaksin untuk mengatasi infeksi virus dengue ini sudah disetujui WHO dan FDA sejak 2015. Vaksin bernama Dengvaxia ini juga sudah mengantongi rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Meski sudah tersedia, vaksinasi ini nggak masuk sebagai program imunisasi nasional karena harganya terhitung mahal. IDAI menyarankan vaksin DBD untuk diberikan kepada anak usia 9-16 tahun yang sudah pernah terinfeksi.

Lebih tenang dengan asuransi 

Melakukan pencegahan merupakan upaya terbaik supaya terhindar dari semua kerugian yang disebabkan oleh penyakit DBD. Akan tetapi, ada kalanya meski upaya itu sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya, penyakit DBD tetap datang menghampiri.  

Jika itu yang terjadi, sejumlah biaya perlu disiapkan untuk perawatan DBD. Pasien DBD biasanya perlu dirawat di fasilitas kesehatan selama 3-5 hari. Perawatan ini bisa memakan biaya antara 5 hingga 20 juta rupiah. Nggak sedikit, kan?

Kamu mungkin juga tertarik untuk mempelajari artikel berikut yang menjawab Pentingkah untuk memiliki asuransi penyakit kritis? Apa saja manfaatnya? 

Untuk menanggung biaya perawatan ini, Roojai menawarkan solusi proteksi khusus untuk melindungi dari resiko finansial yang timbul apabila kamu terkena penyakit akibat gigitan nyamuk. Dengan benefit pembiayaan cashless di lebih dari 2.000 rumah sakit rekanan, Roojai memberikan perlindungan dengan premi yang terjangkau dan harga terbaik di kelasnya. Pelajari lebih lanjut mengenai proteksi ini dengan mengakses laman Asuransi Penyakit Kritis.

Yuk, lakukan upaya pencegahan dan perlindungan terbaik dari penyakit DBD! Pastikan lingkungan kamu bersih, perkuat daya tahan tubuh kamu dan miliki asuransi penyakit kritis terbaik dari Roojai.