
Muncul persepsi bahwa premi asuransi mobil listrik lebih mahal dibanding mobil konvensional. Banyak pemilik kendaraan mulai mempertanyakan apakah hal tersebut memang disebabkan risiko mobil listrik yang lebih tinggi, terutama terkait baterai dan biaya perbaikannya.
Hingga saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum membedakan rate premi resmi antara kendaraan listrik dan mobil konvensional. Namun dalam siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2025, OJK mulai memberi sinyal bahwa kendaraan listrik akan diperlakukan sebagai kategori risiko tersendiri di masa depan melalui rancangan SEOJK terbaru.
“OJK mulai mengatur tarif premi asuransi kendaraan bermotor berbasis listrik dalam rancangan SEOJK terbaru, menandakan kendaraan EV mulai diperlakukan sebagai kategori risiko berbeda dibanding mobil konvensional.”
Mengikuti perkembangan tersebut, Lifepal melihat mayoritas perusahaan asuransi mobil di Indonesia saat ini memang masih menggunakan rate asuransi mobil normal OJK yang sama dengan kendaraan konvensional. Namun dalam proses underwriting, beberapa perusahaan mulai menerapkan ketentuan tambahan khusus kendaraan listrik.
Lifepal melihat mayoritas perusahaan asuransi mobil di Indonesia saat ini masih menggunakan rate normal OJK yang sama dengan kendaraan konvensional. Namun dalam proses underwriting, beberapa perusahaan mulai menerapkan ketentuan tambahan khusus kendaraan listrik.
Beberapa perusahaan asuransi mulai mewajibkan perbaikan di bengkel resmi ATPM untuk kendaraan listrik. Selain itu, ada juga yang menerapkan additional deductible khusus kerusakan baterai hingga 10% dari nilai klaim. Ketentuan tambahan inilah yang kemudian membuat premi asuransi mobil listrik sering dianggap lebih mahal dibanding mobil biasa.
Namun apakah benar biaya klaim kendaraan listrik saat ini memang lebih tinggi dibanding mobil konvensional?
Tren Populasi Kendaraan Listrik di Indonesia
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk memahami bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia masih berada pada tahap awal perkembangan. Meskipun pertumbuhannya sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kendaraan listrik yang beredar masih jauh lebih sedikit dibandingkan kendaraan berbahan bakar konvensional.

Dari grafik yang dirangkum oleh Lifepal.co.id di atas terlihat bahwa populasi mobil Hybrid Electric Vehicle (HEV) meningkat dari sekitar 2.685 unit pada 2021 menjadi lebih dari 65 ribu unit pada 2025. Sementara itu, Battery Electric Vehicle (BEV) tumbuh menjadi lebih dari 103 ribu unit pada periode yang sama. Di sisi lain, kendaraan konvensional masih mendominasi pasar otomotif nasional dengan jumlah yang jauh lebih besar.
Kondisi ini membuat data historis terkait klaim asuransi mobil listrik di Indonesia masih relatif terbatas. Dengan populasi kendaraan yang masih kecil, pola risiko dan biaya klaim yang terbentuk juga belum sepenuhnya matang untuk dijadikan acuan jangka panjang.
Karena itu, untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, diperlukan pembanding dari pasar yang memiliki tingkat adopsi kendaraan listrik lebih tinggi.
Thailand Memiliki Pasar EV yang Lebih MatangÂ
Sebelum membandingkan biaya klaim, penting untuk memahami mengapa Thailand dipilih sebagai acuan dalam analisis ini. Dibandingkan Indonesia, Thailand memiliki penetrasi kendaraan listrik yang jauh lebih tinggi sehingga menghasilkan volume klaim EV yang lebih besar. Hal ini memungkinkan pola biaya klaim kendaraan listrik diamati dengan lebih representatif dibandingkan pasar yang masih berada pada tahap awal perkembangan.

Sepanjang 2025, klaim kendaraan listrik di Thailand terus menunjukkan tren peningkatan dari kuartal ke kuartal. Secara keseluruhan, klaim EV masih menyumbang sekitar 2% dari total klaim kendaraan yang tercatat, sementara sisanya berasal dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Meskipun porsinya masih relatif kecil, volume klaim EV yang telah mencapai lebih dari 2.300 kasus sepanjang 2025,memberikan data historis yang cukup untuk mulai mengidentifikasi pola biaya klaim pada pasar kendaraan listrik yang lebih matang.
Rata-Rata Biaya Klaim EV Lebih Tinggi 32%
Untuk memahami bagaimana biaya klaim kendaraan listrik berkembang pada pasar yang lebih matang, Lifepal bersama Roojai Indonesia melakukan analisis terhadap rata-rata nilai klaim asuransi mobil listrik (EV) dan mobil secara umum sepanjang tahun 2025 di Thailand (sumber data historis Asuransi Roojai Thailand)
Thailand dipilih sebagai acuan karena merupakan salah satu pasar kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat penetrasi EV yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Jumlah kendaraan listrik yang lebih besar menghasilkan volume data klaim yang lebih banyak sehingga pola risiko dapat diamati dengan lebih jelas.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, terlihat bahwa biaya klaim kendaraan listrik secara konsisten berada di atas biaya klaim kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) sepanjang 2025. Pada sebagian besar periode pengamatan, rata-rata nilai klaim EV berada di atas kendaraan ICE atau non-EV.
Jika melihat periode Kuartal IV 2025 (Oktober–Desember), rata-rata biaya klaim kendaraan listrik tercatat sekitar 32% lebih tinggi dibandingkan nilai klaim kendaraan ICE atau mobil konvensional. Temuan ini mengindikasikan bahwa biaya perbaikan kendaraan listrik masih dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti harga komponen yang lebih mahal, ketersediaan suku cadang yang lebih terbatas, hingga kebutuhan teknisi dengan keahlian khusus.
Meski demikian, hasil ini tidak berarti bahwa kendaraan listrik selalu memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional. Besarnya nilai klaim juga dipengaruhi oleh harga kendaraan, jenis kerusakan, biaya tenaga kerja, struktur jaringan bengkel, hingga karakteristik pasar di masing-masing negara.
Kesimpulannya, saat ini adalah biaya klaim kendaraan listrik memang cenderung lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional pada pasar yang lebih matang seperti Thailand. Namun, pasar EV di Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan sehingga pola risiko dan biaya klaimnya masih akan terus berkembang seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik. Dalam beberapa tahun ke depan, data klaim yang semakin besar akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apakah premi asuransi mobil listrik memang perlu diperlakukan berbeda dibandingkan mobil konvensional.
Bagikan: