Biaya Klaim Mobil Listrik 32% Lebih Tinggi pada Q4 2025 ID I Roojai.co.id

Artikel in merupakan hasil kolaborasi Roojai dan Lifepal untuk menyajikan informasi seputar asuransi yang akurat, relevan, dan mudah dipahami.

Munculnya anggapan bahwa premi asuransi mobil listrik lebih mahal dibanding mobil konvensional karena dinilai risiko kendaraan listrik lebih tinggi, terutama soal mahalnya biaya baterai.

Namun, faktanya, Otoritas Jasa Keuangan sendiri belum membedakan secara khusus rate premi untuk kendaraan listrik dan konvensional. Meskipun demikian, OJK memang berencana akan memperlakukan asuransi kendaraan listrik sebagai kategori risiko tersendiri di masa depan. Ini tercermin misalnya pada siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Juni 2025. “OJK mulai mengatur tarif premi asuransi kendaraan bermotor berbasis listrik dalam rancangan SEOJK terbaru, menandakan kendaraan EV mulai diperlakukan sebagai kategori risiko berbeda dibanding mobil konvensional.”

Roojai bersama marketplace asuransi Lifepal, menganalisis tren biaya klaim asuransi mobil listrik dibandingkan mobil konvensional untuk melihat benarkah anggapan premi EV lebih mahal dibanding konvensional. Menurut Lifepal, mayoritas perusahaan asuransi mobil di Indonesia masih menggunakan rate asuransi mobil normal OJK yang sama dengan kendaraan konvensional. Namun, pada tahap underwriting, perusahaan asuransi dapat menetapkan ketentuan khusus berkaitan dengan mobil listrik.

Misalnya, ada perusahaan asuransi yang mewajibkan perbaikan kendaraan listrik dilakukan di bengkel resmi ATPM. Ada pula yang menetapkan additional deductible khusus kerusakan baterai hingga 10% dari nilai klaim. Inilah yang kemudian membuat biaya klaim mobil listrik dianggap lebih tinggi daripada konvensional.

Pertumbuhan Kendaraan Listrik di Indonesia

Meskipun perbincangan mengenai mobil listrik cukup ramai dalam beberapa tahun terakhir, ternyata pertumbuhan EV sendiri masih jauh lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Banyak pengamat menilai bahwa industri kendaraan di Indonesia masih dalam tahap awal perkembangan.

Tren Populasi Kendaraan di Indonesia I Lifepal.co.id

Data populasi kendaraan dari Kementerian Perindustrian RI yang diolah Direktorat Jenderal ILMATE menunjukkan pergeseran arah pasar otomotif nasional dalam lima tahun terkahir. Jika pada 2021-2022 kendaraan konvensional (ICE) masih mendominasi dengan lebih dari 1 juta unit, populasinya justru terus menurut sejak 2023 hingga tersisa 629.194 unit pada 2025.

Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi menunjukkan tren berlawanan. Populasi Battery Electric Vehicle (BEV) melonjak dari hanya 685 unit pada 2021 menjadi 103.931 unit pada 2025, bahkan menyalip populasi Hybrid Electric Vehicle (HEV) yang tumbuh dari 2.473 unit menjadi 65.323 unit pada periode yang sama. Titik silang ini baru terjadi di 2025, menandakan tahun tersebut menjadi momentum awal pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan elektrifikasi.

Meski pertumbuhannya signifikan, populasi kendaraan listrik secara keseluruhan masih jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan konvensional yang sudah beredar puluhan tahun. Kondisi ini membuat data historis klaim asuransi mobil listrik di Indonesia masih relatif terbatas, sehingga pola risiko dan biaya klaim yang terbentuk belum sepenuhnya matang untuk dijadikan acuan jangka panjang.

Karena itu, diperlukan pembanding dari pasar dengan tingkat adopsi kendaraan listrik yang lebih tinggi agar gambaran yang diperoleh lebih komprehensif. 

Belajar dari Pasar EV di Thailand yang Lebih Matang

Dalam membandingkan biaya klaim, Roojai dan Lifepal memilih Thailand sebagai acuan karena penetrasi kendaraan listriknya yang jauh lebih tinggi dan volume klaim EV yang lebih besar. Hal ini memungkinkan pola biaya klaim kendaraan listrik di Thailand dapat diamati dengan lebih representatif ketimbang Indonesia yang masih dalam tahap awal perkembangan.

Sepanjang 2025, klaim kendaraan listrik di Thailand menunjukkan tren peningkatan dari kuartal ke kuartal, bahkan laju pertumbuhannya semakin cepat menjelang akhir tahun. Jumlah klaim EV tercatat naik dari 231 kasus pada Q1 menjadi 1.097 kasus pada Q4, dengan lonjakan paling signifikan terjadi pada paruh kedua tahun 2025.

Secara keseluruhan, klaim EV masih menyumbang sekitar 2% dari total klaim kendaraan yang tercatat, sementara sisanya berasal dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE). Meskipun porsinya masih relatif kecil, volume klaim EV yang telah mencapai 2.330 kasus sepanjang 2025 memberikan data historis yang cukup untuk mulai mengidentifikasi pola biaya klaim pada pasar kendaraan listrik yang lebih matang.

Rata-Rata Biaya Klaim EV Lebih Tinggi 32%

Lifepal bersama Roojai Indonesia menganalisis rata-rata nilai klaim asuransi mobil listrik (EV) dibandingkan mobil secara umum sepanjang 2025 di Thailand menggunakan data historis dari Asuransi Roojai Thailand. Tujuannya, untuk memahami bagaimana biaya klaim kendaraan listrik berkembang pada pasar yang lebih matang.

Thailand dipilih sebagai acuan karena merupakan salah satu pasar kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara dengan tingkat penetrasi EV yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Semakin besar populasi kendaraan listrik di suatu pasar, semakin besar pula volume data klaim yang dihasilkan, sehingga pola risiko dan biaya klaimnya bisa diamati dengan lebih akurat.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, terlihat bahwa selisih biaya klaim antara kendaraan listrik dan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) terus melebar sepanjang 2025. Pada Kuartal I 2025, rata-rata nilai klaim EV masih lebih murah dibandingkan ICE. Namun sejak Kuartal II, posisinya berbalik, nilai klaim EV mulai melampaui ICE dan terus merangkak naik hingga puncaknya di Kuartal IV.

Pada Kuartal IV 2025 (Oktober-Desember), rata-rata biaya klaim EV bahkan tercatat 32% lebih tinggi dibandingkan nilai klaim kendaraan ICE atau mobil konvensional. Ada beberapa faktor yang memengaruhi seperti mahalnya harga komponen kendaraan, suku cadang yang terbatas hingga kebutuhan terhadap teknisi dengan keahlian khusus.

Meski demikian, hasil riset di atas tidak selalu menunjukkan bahwa risiko kendaraan listrik lebih tinggi. Besarnya nilai klaim juga terpengaruh faktor lain seperti harga kendaraan, jenis kerusakan, biaya tenaga kerja, struktur jaringan bengkel hingga karakteristik pasar di setiap negara.

Kesimpulannya, biaya klaim kendaraan listrik memang cenderung lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional pada pasar yang lebih matang seperti Thailand. Namun, pasar EV di Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan sehingga arah risiko dan biaya klaimnya masih akan terus berevolusi seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik. Dalam beberapa tahun ke depan, data klaim yang semakin besar akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai apakah premi asuransi mobil listrik memang perlu diperlakukan berbeda dibandingkan mobil konvensional.

Bruce Yudha Kelana

Ditulis oleh

Bruce Yudha Kelana

Insurance Claims Manager

Bruce telah berkarier di industri asuransi umum sejak 2003, terutama di asuransi kendaraan bermotor. Ia juga telah memiliki pengalaman dalam audit dan investigasi klaim di beberapa perusahaan asuransi ternama di Indonesia . Saat ini, Bruce menjabat sebagai Manager Klaim Asuransi Mobil di Roojai Indonesia, memastikan proses klaim berjalan cepat, transparan, dan akurat bagi nasabah.

Bagikan: