34,6 Juta Peserta JKN Berisiko Penyakit Kronis, Sudahkah Kamu Punya Asuransi Kesehatan?
September 01, 2026

Sekitar 34,6 juta peserta JKN teridentifikasi memiliki risiko penyakit kronis berdasarkan hasil Skrining Riwayat Kesehatan BPJS Kesehatan. Tingginya angka tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini, perencanaan keuangan, dan perlindungan kesehatan untuk menghadapi potensi biaya pengobatan di masa depan.
Penyakit kronis kini menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Indonesia. Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa jutaan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) teridentifikasi memiliki risiko penyakit kronis. Risiko tersebut mencakup berbagai kondisi seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, diabetes melitus, kanker serviks, PPOK, hingga tuberkulosis.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit kronis bukan lagi persoalan yang hanya dialami kelompok lanjut usia. Perubahan pola hidup, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga pola makan yang kurang sehat membuat risiko penyakit tidak menular semakin banyak ditemukan pada usia produktif.
Artikel ini membahas hasil terbaru Skrining Riwayat Kesehatan BPJS Kesehatan, jenis penyakit kronis yang paling banyak ditemukan, dampaknya terhadap kondisi finansial, estimasi biaya pengobatan, serta pentingnya memiliki asuransi kesehatan sebelum risiko tersebut datang.
Jenis Penyakit Kronis yang Paling Banyak Ditemukan
Hasil Skrining Riwayat Kesehatan BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta yang teridentifikasi berisiko penyakit kronis mengarah pada penyakit tidak menular. Penyakit-penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak penderita baru menyadarai kondisinya setelah muncul komplikasi.
Berikut beberapa penyakit yang paling banyak teridentifikasi melalui hasil skrining BPJS Kesehatan beserta alasan mengapa kondisi tersebut perlu diwaspadai.
1. Hipertensi, stroke, dan penyakit jantung
Hipertensi, stroke, dan penyakit jantung menjadi kelompok kondisi yang paling banyak ditemukan, dengan sekitar 23 juta peserta JKN teridentifikasi memiliki risiko terhadap penyakit tersebut. Hipertensi sering dijuluki sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala, tetapi meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung, hingga gagal ginjal.
Risiko tersebut dapat ditekan melalui pemeriksaan tekanan darah secara rutin, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam, berolahraga secara teratur, serta menghindari kebiasaan merokok.
2. Diabetes melitus
BPJS Kesehatan juga mencatat sekitar 17 juta peserta memiliki risiko diabetes melitus. Penyakit ini terjadi ketika kadar gula darah tidak dapat dikendalikan dengan baik dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, kerusakan saraf, hingga penyakit kardiovaskular apabila tidak ditangani sejak dini.
Menjalani pola makan seimbang, rutin berolahraga, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko diabetes maupun mencegah komplikasinya.
3. Kanker serviks
Sekitar 14,4 juta peserta teridentifikasi memiliki risiko kanker serviks. Kanker ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan dan umumnya berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV). Apabila ditemukan pada stadium awal, peluang keberhasilan pengobatan umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan ketika kanker telah menyebar ke organ lain.
Skrining secara berkala melalui IVA atau Pap smear, vaksinasi HPV sesuai anjuran, serta menerapkan gaya hidup sehat merupakan langkah penting untuk membantu menurunkan risiko kanker serviks.
4. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Hasil skrining juga menunjukkan sekitar 3,3 juta peserta berisiko mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Penyakit ini menyebabkan saluran napas mengalami penyempitan sehingga penderitanya sering mengalami sesak napas, batuk kronis, dan penurunan fungsi paru secara bertahap. Faktor risiko utamanya meliputi kebiasaan merokok, paparan asap rokok, polusi udara, serta paparan debu atau bahan kimia dalam jangka panjang.
5. Tuberkulosis (TBC)
Sekitar 2,4 juta peserta juga teridentifikasi memiliki risiko tuberkulosis (TBC). Berbeda dengan penyakit sebelumnya yang termasuk penyakit tidak menular, TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menular melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.
Karena bersifat menular, deteksi dini dan kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas menjadi kunci untuk mencegah penyebaran penyakit.
6. Kondisi lain yang juga ditemukan
Selain lima kondisi utama tersebut, BPJS Kesehatan juga melaporkan adanya peserta yang teridentifikasi berisiko hepatitis B, hepatitis C, kanker paru, kanker payudara, talasemia, dan kanker usus. Meski jumlahnya lebih sedikit, penyakit-penyakit tersebut tetap memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi kualitas hidup dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit apabila terlambat ditangani.
Mengapa Penyakit Kronis Dapat Menguras Tabungan
Saat mendengar penyakit kronis, banyak orang langsung membayangkan biaya operasi atau rawat inap yang mahal. Padahal, beban finansial terbesar justru sering berasal dari kebutuhan pengobatan jangka panjang yang harus dijalani secara rutin selama bertahun-tahun.
Sebagai contoh, penderita hipertensi atau diabetes perlu menjalani kontrol berkala, mengonsumsi obat setiap hari, dan melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin. Sementara pasien stroke atau penyakit jantung mungkin membutuhkan rehabilitasi medis, fisioterapi, hingga tindakan lanjutan setelah keluar dari rumah sakit.
Selain biaya medis, penyakit kronis juga dapat mengurangi produktivitas kerja. Tidak sedikit pasien yang harus mengurangi jam kerja, mengambil cuti panjang, bahkan berhenti bekerja karena kondisi kesehatannya. Pada saat yang sama, anggota keluarga juga kerap mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi, pendampingan pasien, maupun kebutuhan selama proses pemulihan.
Besarnya dampak tersebut tercermin dari data BPJS Kesehatan yang mencatat biaya pelayanan penyakit kronis mencapai Rp50,2 triliun sepanjang 2025 untuk menangani 59,9 juta kasus. Angka ini menunjukkan bahwa penyakit kronis bukan hanya menjadi tantangan kesehatan, tetapi juga beban ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat maupun sistem kesehatan nasional.
Berapa Estimasi Biaya Pengobatan Penyakit Kronis di Indonesia?
Besarnya biaya pengobatan penyakit kronis berbeda-beda tergantung tingkat keparahan penyakit, jenis tindakan medis, lama perawatan, serta rumah sakit yang dipilih. Selain biaya rawat inap, pasien juga perlu memperhitungkan biaya konsultasi dokter, obat-obatan, pemeriksaan penunjang, hingga rehabilitasi.
Berikut gambaran umum komponen biaya yang biasanya diperlukan.
| Nama Penyakit | Gambaran biaya pengobatan |
| Hipertensi | Obat hipertensi dapat dimulai dari belasan ribu rupiah per bulan, tetapi kontrol rutin dan pemeriksaan laboratorium dapat membuat biaya mencapai ratusan ribu rupiah per bulan, belum termasuk jika terjadi komplikasi seperti stroke atau penyakit jantung. |
| Stroke | Pemeriksaan CT Scan mulai sekitar Rp600 ribu, MRI sekitar Rp2,7–4 juta, ditambah biaya rawat inap, ICU, obat, dan fisioterapi yang dapat membuat total biaya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. |
| Penyakit jantung | Tindakan seperti pemasangan ring jantung dapat menelan biaya sekitar Rp40–80 juta untuk satu ring. Jika membutuhkan lebih dari satu ring, operasi bypass, rawat inap, atau perawatan lanjutan, total biaya dapat meningkat hingga ratusan juta rupiah. |
| Diabetes melitus | Kontrol rutin, obat atau insulin, serta pemeriksaan HbA1c dapat menghabiskan jutaan rupiah per bulan, terutama jika sudah muncul komplikasi. |
| Kanker | Kemoterapi dapat menelan biaya sekitar Rp4–5 juta per sesi, sementara operasi dan terapi lanjutan dapat membuat total biaya pengobatan mencapai ratusan juta rupiah. |
Besaran biaya dapat berbeda pada setiap pasien tergantung kondisi medis, fasilitas kesehatan, dan jenis tindakan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pengobatan penyakit kronis seringkali membutuhkan perencanaan keuangan yang matang agar tidak mengganggu kondisi finansial keluarga.
Ketahui daftar penyakit yang ditanggung oleh asuransi penyakit kritis dan tips memilih jenis produk perlindungan yang tepat.
Pentingnya Memiliki Asuransi Kesehatan Sebelum Sakit
Melihat besarnya potensi biaya pengobatan penyakit kronis, memiliki asuransi kesehatan sejak masih sehat menjadi salah satu langkah perlindungan finansial yang perlu dipertimbangkan. Selain membantu mengurangi beban biaya saat membutuhkan perawatan medis, manfaat asuransi kesehatan lainnya juga dapat memberikan peluang memperoleh perlindungan yang lebih optimal.
Berikut beberapa alasan mengapa sebaiknya memiliki asuransi kesehatan sebelum sakit:
- Premi umumnya lebih terjangkau saat kondisi kesehatan masih baik. Risiko kesehatan yang lebih rendah dapat memberikan peluang memperoleh premi yang lebih kompetitif sesuai hasil underwriting masing-masing perusahaan asuransi.
- Terhindar dari kendala akibat pre-existing condition. Jika sudah didiagnosis penyakit tertentu sebelum membeli polis, manfaat perlindungan untuk kondisi tersebut dapat dibatasi atau bahkan dikecualikan sesuai ketentuan polis.
- Sudah melewati masa tunggu (waiting period) saat manfaat dibutuhkan. Banyak produk asuransi kesehatan menerapkan masa tunggu sebelum manfaat tertentu dapat digunakan, sehingga membeli polis lebih awal dapat mengurangi risiko harus menunggu ketika membutuhkan perawatan.
- Melindungi tabungan dari biaya pengobatan yang tidak terduga. Saat risiko kesehatan datang, kamu tidak perlu mengandalkan tabungan atau menjual aset untuk membayar biaya rumah sakit yang nilainya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
- Memberikan ketenangan saat menjalani perawatan. Dengan perlindungan yang sesuai, kamu dapat lebih fokus pada proses pemulihan tanpa harus terus memikirkan beban biaya pengobatan.
Tips Memilih Asuransi Kesehatan jika Memiliki Riwayat Penyakit Keluarga
Memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau kanker dalam keluarga bukan berarti kamu pasti akan mengalami kondisi yang sama. Namun, faktor genetik dapat meningkatkan risiko sehingga penting untuk mempersiapkan perlindungan kesehatan sejak dini.
Saat memilih asuransi kesehatan, jangan hanya membandingkan besarnya premi. Pastikan manfaat yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan perlindungan jangka panjang. Berikut beberapa tips memilih asuransi, khususnya jika memiliki riwayat penyakit keluarga.
1. Miliki asuransi sebelum muncul gejala atau diagnosis
Semakin cepat memiliki asuransi kesehatan, semakin besar peluang memperoleh perlindungan yang lebih optimal. Jika polis dibeli setelah muncul diagnosis penyakit tertentu, manfaat untuk kondisi tersebut dapat dibatasi atau dikecualikan sesuai ketentuan masing-masing perusahaan asuransi.
2. Perhatikan ketentuan pre-existing condition
Setiap perusahaan asuransi memiliki kebijakan yang berbeda terkait kondisi yang sudah ada sebelumnya (pre-existing condition). Luangkan waktu untuk membaca polis agar kamu memahami manfaat yang ditanggung, pengecualian, serta syarat klaim yang berlaku.
3. Pilih limit manfaat yang memadai
Penyakit kronis sering kali membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang, mulai dari kontrol rutin hingga tindakan medis lanjutan. Karena itu, pilihlah limit tahunan yang sesuai agar perlindungan tetap mencukupi jika membutuhkan perawatan berulang.
4. Pahami masa tunggu (waiting period)
Sebagian manfaat asuransi kesehatan baru dapat digunakan setelah melewati masa tunggu tertentu. Memiliki polis sejak masih sehat dapat membantu memastikan masa tunggu telah terlewati ketika kamu membutuhkan perlindungan.
5. Sesuaikan manfaat dengan kebutuhanmu
Jika memiliki riwayat penyakit tertentu dalam keluarga, pertimbangkan manfaat tambahan yang relevan, seperti perlindungan penyakit kritis, rawat inap dengan limit yang memadai, atau manfaat rawat jalan apabila tersedia. Pilih perlindungan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu
Rancang Perlindungan Sebelum Risiko Datang
Memiliki asuransi kesehatan sejak masih sehat dapat membantu mengurangi beban biaya ketika membutuhkan perawatan medis. Selain memberikan perlindungan finansial, asuransi juga membuat kamu dapat lebih fokus menjalani proses pemulihan tanpa harus dibayangi kekhawatiran terhadap biaya rumah sakit.
Jika sedang mempertimbangkan asuransi kesehatan, Roojai menyediakan pilihan plan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Kamu juga dapat memilih limit perlindungan hingga Rp2 miliar, memanfaatkan jaringan 2.000+ rumah sakit rekanan di Indonesia maupun luar negeri, serta menyesuaikan manfaat polis sesuai kebutuhan.
Setelah menentukan pilihan yang sesuai, kamu bisa langsung cek premi secara online untuk mengetahui estimasi biaya perlindunganmu. Yuk, lindungi dirimu dan orang tersayang dengan asuransi kesehatan terbaik dari Roojai!
Pertanyaan Seputar Risiko Penyakit Kronis di Indonesia
Apakah penyakit kronis ditanggung oleh asuransi kesehatan?
Tidak selalu. Setiap perusahaan asuransi memiliki ketentuan yang berbeda mengenai manfaat polis, masa tunggu (waiting period), serta penanganan kondisi yang sudah ada sebelumnya (pre-existing condition). Karena itu, penting untuk membaca isi polis secara menyeluruh sebelum membeli asuransi kesehatan.
Kapan waktu terbaik untuk memiliki asuransi kesehatan?
Waktu terbaik adalah ketika kondisi kesehatan masih baik dan belum ada diagnosis penyakit serius. Dengan memiliki asuransi sejak dini, kamu umumnya memiliki pilihan perlindungan yang lebih luas serta berkesempatan memperoleh premi yang lebih kompetitif sesuai hasil underwriting masing-masing perusahaan asuransi.
Bagikan: